Selat Hormuz Pulih, OPEC+ Naikkan Target Produksi Minyak Mulai Agustus 2026

Harga minyak mentah Brent dilaporkan anjlok kembali ke level sebelum konflik di kisaran 72 dolar AS per barel akibat melimpahnya pasokan dan penurunan permintaan dari China./(Ilustrasi/@pixabay)

FAKTANASIONAL.NET — Aliansi produsen minyak dunia, OPEC+, memutuskan untuk kembali menaikkan target produksi minyak mentah mulai Agustus 2026.

Langkah ini diambil di tengah tren melemahnya harga minyak dunia setelah jalur ekspor krusial di Selat Hormuz berangsur pulih pascakonflik di Timur Tengah.

Dalam pernyataan resminya pada Minggu (5/7/2026), OPEC+ menyepakati kenaikan kuota produksi sebesar 188.000 barel per hari (bph) untuk bulan Agustus. Besaran kenaikan ini konsisten dengan angka yang diberlakukan pada Juni dan Juli sebelumnya.

Secara akumulatif sejak April hingga Juli 2026, tujuh anggota inti OPEC+ (termasuk Rusia) telah menggenjot kuota produksi hampir mencapai 800.000 bph.

Kendati demikian, realisasi di lapangan sempat tersendat akibat konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang sempat melumpuhkan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz—jalur nadi utama ekspor minyak bagi Arab Saudi, Kuwait, dan Irak.

Baca Juga: Dipicu AS-Iran dan Banjir Pasokan, Harga Minyak Dunia Catat Penurunan Kuartalan Terburuk Sejak Pandemi

Data internal OPEC mencatat produksi sempat anjlok drastis ke angka 33,13 juta bph pada Mei dari sebelumnya 42,77 juta bph pada Februari. Kondisi baru mulai merangkak naik pada Juni setelah AS turut membantu Uni Emirat Arab (UEA) serta sejumlah anggota aliansi untuk mengamankan jalur ekspor.

Harga Minyak Brent Anjlok ke 72 Dolar AS

Kesepahaman baru antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri konflik menjadi katalis utama yang meredakan kecemasan pasar terhadap rantai pasok global.

Pada perdagangan Jumat, harga minyak mentah jenis Brent ambrol ke kisaran 72 dolar AS per barel (sekitar Rp1,17 juta). Angka ini turun tajam dari puncak konflik yang sempat menembus 120 dolar AS per barel (sekitar Rp1,96 juta).

Selain faktor geopolitik yang mendingin, merosotnya harga minyak dunia juga dipicu oleh tiga faktor utama: