FAKTANASIONAL.NET – Bencana kekeringan mulai melanda sejumlah daerah yang memicu krisis air bersih di Pulau Jawa pada awal bulan Juli 2026.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat puluhan ribu warga di Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur mulai kesulitan mendapatkan pasokan air minum harian.
Kondisi terparah tercatat terjadi di Kabupaten Cilacap dengan total 6.275 jiwa dari delapan desa yang mengalami defisit pasokan sejak bulan Juni 2026.
Wilayah yang paling terdampak di Cilacap meliputi Kecamatan Nusawungu, Jeruklegi, Adipala, Patimuan, Kampung Laut, dan kawasan Gandrungmangu.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat telah bertindak dengan mendistribusikan 30.000 liter pasokan darurat ke lima desa di Kabupaten Cilacap.
Fenomena krisis air bersih di Pulau Jawa ini juga dirasakan secara langsung oleh 4.244 warga di Kecamatan Bawang dan Kecamatan Mandiraja Kabupaten Banjarnegara.
Pemerintah daerah Banjarnegara merespons situasi ini dengan mengirimkan delapan truk tangki berisi total 80.000 liter pasokan untuk warga Desa Gemuruh dan Desa Somawangi.
Sementara itu kekurangan sumber air ini turut melanda enam wilayah kecamatan di Kabupaten Grobogan akibat menurunnya debit mata air tanah secara drastis.
Bantuan pasokan darurat di Grobogan telah didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga bagi 602 kepala keluarga di wilayah tersebut.
Kondisi serupa turut dialami oleh 4.614 jiwa di kawasan Purwokerto Timur dan Karanglewas Kabupaten Banyumas yang menerima bantuan 15.000 liter dari pemerintah.
Bergeser ke ujung timur sebanyak 125 keluarga di Desa Sumberpinang Kabupaten Jember juga dilaporkan terdampak bencana kekeringan sejak hari Rabu pekan lalu.
Palang Merah Indonesia bersama instansi terkait telah menyalurkan 4.000 liter pasokan untuk warga Dusun Bunder di Desa Sumberpinang pada hari Senin kemarin.
Penurunan tingkat curah hujan yang terus berlanjut diperkirakan akan semakin memperluas cakupan wilayah terdampak kekeringan dalam beberapa pekan ke depan.
(*Red)
