Kedua, mengenai Aturan Hukum Teknologi AI. Megawati memperingatkan Timor-Leste agar mulai merancang undang-undang ketat terkait penyalahgunaan Artificial Intelligence (AI).
Ia menceritakan anekdot filosofis kemanusiaan saat menyampaikan kuliah di Rusia, serta pengalaman pribadinya di Indonesia yang menjadi korban manipulasi wajah oleh oknum iklan menggunakan teknologi AI.
Selanjutnya, Megawati bicara soal Koridor Strategis Ekonomi. Selaku Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia, Megawati menawarkan kerja sama riset dengan Presiden Ramos-Horta dan PM Xanana untuk membangun kawasan pertumbuhan ekonomi bersama di koridor Nusa Tenggara Timur (NTT), Dili, dan Papua.
Lewat kuliah itu, Megawati juga menawarkan Kerja Sama Kepartaian; yakni program kaderisasi dan pelatihan kepemimpinan bersama antara PDI Perjuangan dengan partai politik di Timor-Leste. Hal itu guna menyalurkan sistem manajemen partai berbasis kedisiplinan organisasi.
Menutup kuliah kepresidenannya, Megawati mengingatkan bahwa sejarah tidak membuka jendelanya untuk selamanya. Ia menitipkan pesan mendalam kepada generasi muda Indonesia dan Timor-Leste agar tidak membiarkan hubungan persaudaraan ini hanya hidup sebagai kenangan para orang tua belaka.
Megawati mendorong pelembagaan hubungan persaudaraan ini secara konkret melalui percepatan tuntasnya perjanjian perbatasan yang adil, program pertukaran mahasiswa dan guru, serta optimalisasi kerja sama di dalam kerangka ASEAN, di mana kini Timor-Leste telah berdiri sebagai anggota tetap dengan dukungan penuh dari Indonesia.
“Dari Dili, kota para pejuang, marilah kita kabarkan kepada dunia bahwa meski kini kita hadir sebagai dua negara, namun kita disatukan oleh cita-cita bersama membangun jalan peradaban bagi dunia. Merdeka!” tutup Megawati.
Kuliah Megawati itu disaksikan langsung oleh Presiden dan Perdana Menteri Timor Leste, Jose Ramos Horta serta Xanana Gusmao, petinggi masyarakat Timor Leste, hingga perwakilan negara asing yang diundang. Sementara dari rombongan Megawati, hadir pihak keluarga seperti Puti Guntur Soekarnoputri, Hendra Rahtomo atau Romy Soekarno, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, serta jajaran DPP PDIP seperti Bintang Puspayoga, Ahmad Basarah, Andi Widjajanto, dan Andreas Pareira.











