Bukan Untukmu Bertahta Kembali Wahai Kekasih

Bukan Untukmu Bertahtah Kembali Wahai Kekasih

ADA perbedaan besar antara memberi kesempatan dan menyerahkan kendali.

Banyak orang mengira ketika seseorang menerima cinta yang pernah pergi, itu berarti ia rela kembali menjadi seperti dulu. Padahal tidak selalu demikian.

Aku menerima cintamu kembali bukan karena aku lupa pada luka yang pernah kau tinggalkan.

Aku juga bukan sedang menghapus jejak air mata yang pernah jatuh karenamu. Aku menerimamu karena aku telah berdamai dengan masa lalu, bukan karena aku ingin mengulanginya.

Dulu, kau adalah pusat semestaku. Kebahagiaanku bergantung pada kehadiranmu, dan kesedihanku lahir dari setiap langkahmu yang menjauh.

Aku pernah menempatkanmu di singgasana tertinggi dalam hidupku, hingga tanpa kusadari aku kehilangan diriku sendiri.

Kini aku telah belajar. Cinta yang sehat bukanlah tentang siapa yang berkuasa, melainkan siapa yang saling menjaga.

Tidak ada lagi tahta yang harus kau duduki, karena tahta itu kini telah diisi oleh harga diriku, prinsipku, dan ketenangan batinku.

Aku menerimamu sebagai pasangan, bukan sebagai penguasa. Aku ingin berjalan berdampingan, bukan berada di bawah bayang-bayangmu.