Polkam  

Megawati Inginkan Kader Perempuan Akar Rumput PDIP Berani Bersuara dan Memimpin Pergerakan

“Kalau kita berbicara tentang ruang lingkup perempuan penggerak akar rumput, sebenarnya sangat luas untuk menjabarkan apa yang dimaksudkan oleh Bu Mega bahwa politik adalah persoalan kehidupan,” tambahnya.

Hasto mengatakan ada gap yang besar antara realita yang terjadi saat ini dengan apa yang diharapkan para pendiri bangsa termasuk Bung Karno. Termasuk apa yang selalu diharapkan Megawati soal perempuan.

“Mari kita lihat sejarah, mengapa Bu Mega berharap perempuan penggerak akar rumput ini betul-betul menjadi kader perintis perjuangan dengan semangat yang menyala-nyala dengan kemampuan menggerakkan, dengan kemampuan mempengaruhi pemikiran-pemikiran rakyat di akar rumput, dan kemudian memimpin pergerakan,” papar Hasto.

Maka diharapkannya, melalui pelatihan ini bagaimana kader PDI Perjuangan berani bersikap, membela kebenaran dan memperjuangkan keadilan atas berbagai persoalan yang terjadi di dalam politik kita, di dalam kehidupan perekonomian rakyat, dan dalam memperjuangkan supremasi hukum.

“Maka, pelatihan ToT perempuan penggerak akar rumput ini, selain momentumnya sangat tepat, juga memiliki suatu pijakan historis dan ideologis yang sangat kuat. Karena itulah, beranilah bersuara, beranilah bersikap,” lanjut Hasto.

Hasto mengatakan Megawati berharap perempuan penggerak akar rumput ini betul-betul menjadi kader perintis perjuangan.

“Ibu Mega selalu menegaskan bahwa perempuan jalan peradaban. Karena itulah dalam realitas demokrasi berwatak otoritarianisme populis saat ini, peran kepemimpinan perempuan pelopor sangat penting agar demokrasi semakin kuat berakar,” ujar Hasto.

Sementara itu, Ketua DPP PDIP Bidang Perempuan dan Anak , I Gusti Ayu Bintang Darmawati, atau akrab disebut Bintang Puspayoga, mengatakan penguatan peran perempuan di tingkat akar rumput merupakan bagian penting dalam upaya mewujudkan masyarakat yang berkeadilan sosial, demokratis, dan berperadaban.

Bintang pun mengutip pernyataan Presiden Pertama RI, Soekarno yang mengatakan, “Tiada revolusi tanpa perempuan.” Kalau melihat pemikiran Bung Karno, baik itu dalam buku-buku yang ditulis maupun berbagai sambutan Bung Karno, selalu memberikan apresiasi kepada perempuan.

“Ibu Megawati juga selalu mengatakan bahwa perempuan tidak hanya menjadi objek pembangunan, penerima manfaat pembangunan, tapi perempuan adalah subjek pembangunan.”

“Kita ikut mengambil bagian dalam pembangunan itu sendiri. Oleh karena itu, pelatihan perempuan akar rumput ini menjadi penting untuk mewujudkan tatanan hidup yang adil dan beradab, sesuai yang diamanatkan dasar negara kita, Pancasila,” katanya.