ADA satu pertanyaan yang kini menggantung di benak publik: ke mana perginya target operasi bandar narkoba setelah bentrokan berdarah di Katingan? Ketika aparat kehilangan nyawa dalam sebuah operasi penegakan hukum, namun sosok yang menjadi sasaran utama justru belum berhasil diamankan, maka yang muncul bukan hanya rasa duka, melainkan juga kegelisahan.
Peristiwa ini bukan sekadar kisah bentrok antara aparat dan sekelompok massa. Ia menggambarkan betapa rumitnya perang melawan jaringan narkotika yang telah memiliki akar sosial, pengaruh, bahkan kemampuan memobilisasi massa. Ketika teriakan “perampok” digunakan untuk memancing emosi warga, batas antara informasi dan provokasi menjadi sangat tipis. Dalam hitungan menit, operasi penegakan hukum dapat berubah menjadi kekacauan yang merenggut nyawa.
Yang lebih memprihatinkan, aparat disebut menghadapi serangan menggunakan senjata tajam hingga senjata api laras panjang. Jika fakta ini benar adanya, maka persoalannya tidak lagi sebatas peredaran narkoba, tetapi juga menyangkut ancaman terhadap kewibawaan negara. Tidak boleh ada wilayah yang berubah menjadi tempat di mana aparat negara justru harus menyelamatkan diri demi bertahan hidup.
Gugurnya anggota Polri dalam operasi tersebut menjadi luka yang tidak ringan. Mereka berangkat menjalankan tugas negara dengan risiko yang memang telah mereka pahami, tetapi tidak ada satu pun keluarga yang berharap orang tercintanya pulang dalam keadaan tidak bernyawa. Pengorbanan itu seharusnya menjadi pengingat bahwa pemberantasan narkoba bukan pekerjaan yang sederhana, melainkan perjuangan yang mempertaruhkan nyawa.
Namun, di tengah rasa hormat kepada aparat yang gugur, publik juga berhak menanti jawaban yang jelas. Bagaimana target operasi bisa belum tertangkap? Apakah ada celah dalam pelaksanaan operasi? Apakah terdapat faktor lain yang menyebabkan sasaran utama berhasil lolos? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak boleh dianggap sebagai bentuk ketidakpercayaan, melainkan bagian dari tuntutan akan transparansi dan akuntabilitas.
