Mencari Febrie, Disembunyikan atau Dilenyapkan?

Mencari Febrie, Disembunyikan atau Dilenyapkan?/(Foto: ilustrasi/

SAMPAI hari ini, tidak terlihat lagi batang hidung, Febrie Ardiansyah. Publik bertanya, apakah dia sengaja disembunyikan, atau jangan-jangan sudah dilenyapkan? Mari kita ungkap drama “Brankas Cipete” ini lebih dalam lagi.

Mari kita buka lemari es, siapa tahu Febrie ada di dalam. Sebab belakangan ini mencari keberadaan mantan Jampidsus itu lebih sulit dari Silpester Matutina. Dulu ke mana-mana muncul di televisi. Sekarang lenyap, seolah ditelan bumi.

Padahal pembuka episodenya mewah sekali. Polri menggeledah rumah-rumahnya. Yang disita bukan sekadar koleksi perangko atau celengan ayam. Ada emas sekitar 74 kilogram plus uang tunai lebih dari 20 juta dolar Amerika dalam berbagai mata uang. Lalu statusnya naik menjadi tersangka dalam perkara korupsi batu bara yang dikaitkan dengan blackout, Asabri, Krakatau Steel, hingga dugaan TPPU. Plot twist-nya sudah seperti film laga, penontonnya tinggal menunggu adegan borgol. Eh, yang datang justru adegan… salaman.

Tak lama kemudian, Kapolri Listyo Sigit Prabowo berkunjung ke Kejaksaan Agung. Kamera menyala. Senyum merekah. Tangan bertemu tangan. Bersama Jaksa Agung ST Burhanuddin, keduanya menyampaikan narasi indah tentang satu kesatuan, sahabat, kakak asuh, sinergi, persaudaraan, pokoknya kalau ditambah musik biola sudah cocok jadi iklan sirup Lebaran.

Efek salamannya ternyata lebih sakti daripada jurus seribu bayangan. Seluruh Kejati dan Kapolda se-Indonesia diminta ikut salaman juga. Rasanya seperti ada lomba estafet jabat tangan tingkat nasional. Yang menang bukan siapa paling cepat, tetapi siapa paling kompak.

Di saat bersamaan, penyelidikan Kejaksaan terhadap seluruh SPPG, termasuk milik Polri yang berkaitan dengan Program Makan Bergizi Gratis, mendadak berhenti. Kasus Febrie yang semula diproses Polri lalu dilimpahkan ke Kejaksaan Agung, tempat ia dulu berkarier. Sejumlah pakar hukum, mulai dari Mahfud MD hingga Zaenur Rohman dari Pukat UGM, mempertanyakan langkah itu. Mereka menilai prosedurnya bermasalah, tidak memiliki dasar dalam KUHAP, bahkan berpendapat bila memang ingin independen, semestinya KPK yang mengambil alih. Tetapi di negeri +62, kadang prosedur kalah pamor dibanding foto salaman dengan kualitas kamera 4K.

Lalu dimulailah babak baru. Babak yang judulnya, “Ke Mana Perginya Febrie?”

Orangnya menghilang dari ruang publik. Tidak ada parade rompi tahanan. Tidak ada konferensi pers yang dramatis. Tidak ada adegan berjalan sambil menunduk membawa map cokelat. Yang ada justru kabar simpang siur. Ada bilang masih di rumah dinas. Ada bilang entah di mana. Istri dan keluarganya ikut menjadi bahan perbincangan karena sama-sama misterius. Netizen pun berubah profesi mendadak menjadi detektif paranormal.

Exit mobile version