“Nanti diputuskan bapak presiden sendiri,” tambah Bahlil singkat.
Akhir Penantian 28 Tahun Proyek Raksasa
Langkah groundbreaking ini menjadi tonggak sejarah penting bagi ketahanan energi nasional.
Proyek LNG Abadi Blok Masela, yang dioperatori oleh Inpex Corporation melalui Inpex Masela Ltd, sebelumnya berulang kali terhambat oleh berbagai kendala klasik, mulai dari perdebatan perubahan skema pengembangan (onshore/offshore), revisi rencana pembangunan (PoD), hingga dinamika pergantian mitra investasi.
Proyek yang berlokasi di Laut Arafura ini tercatat memiliki nilai investasi fantastis mencapai sekitar 20 miliar dolar AS atau setara dengan Rp336,78 triliun.
Blok Masela diproyeksikan memiliki potensi kapasitas produksi gas hingga mencapai 1.200 juta kaki kubik standar per hari (MMscfd).
Percepatan proyek ini juga menjadi salah satu fokus diplomasi ekonomi pemerintah.
Saat melakukan kunjungan kenegaraan ke Jepang pada Maret 2026 lalu, Presiden Prabowo secara khusus menginstruksikan percepatan penyelesaian proyek ini guna memperkuat daya tarik investasi sektor energi sekaligus mengamankan pasokan gas nasional.
Sejak hak konsesi pertama kali diberikan kepada Inpex pada tahun 1998, proyek ini praktis sempat tertahan selama 28 tahun tanpa progres signifikan di lapangan.
Melalui momentum groundbreaking ini, pemerintah memasang target optimistis agar lapangan gas raksasa ini dapat mulai beroperasi penuh dan berproduksi (on-stream) pada periode 2029-2030.
Sesuai dengan cetak biru kebijakan energi nasional, sekitar 40 persen dari total hasil produksi gas Blok Masela akan dialokasikan wajib untuk memenuhi kebutuhan industri domestik, sedangkan 60 persen sisanya akan ditujukan untuk pasar ekspor guna mendulang devisa negara.
Baca Juga: Strategi Baru Presiden Prabowo: Perkuat Ekonomi Nasional lewat Transformasi Digital










