Kipas Angin Elit Ekonomi Sulit

Kipas Angin Elit Ekonomi Sulit/(ilustrasi)

Seolah menjaga wajah birokrasi lebih penting daripada menjaga kepercayaan rakyat. Padahal citra tidak dibangun oleh slogan, melainkan oleh keberanian membuka fakta.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah munculnya kebiasaan menganggap masyarakat sebagai pihak yang mudah lupa.

Seakan setiap kontroversi cukup dihadapi dengan konferensi pers singkat, lalu berharap perhatian publik berpindah ke isu lain.

Mungkin cara itu berhasil sepuluh tahun lalu.

Namun hari ini, rakyat menyimpan arsip. Media menyimpan rekaman. Internet tidak pernah benar-benar lupa.

Setiap pernyataan dapat dibandingkan, setiap angka dapat diperiksa, dan setiap kontradiksi akan terus hidup dalam jejak digital.

Itulah sebabnya transparansi bukan lagi pilihan. Ia adalah kebutuhan politik sekaligus kebutuhan moral.

Pejabat yang bersih tidak semestinya takut membuka dokumen. Pejabat yang yakin terhadap kebijakannya tidak perlu alergi terhadap audit publik.

Sebab yang mengancam pemerintahan bukanlah kritik, melainkan keputusan yang tidak mampu dijelaskan secara masuk akal.

Demokrasi tidak runtuh karena rakyat terlalu banyak bertanya. Demokrasi justru melemah ketika penguasa mulai menganggap pertanyaan sebagai gangguan.

Negara yang sehat bukan negara yang bebas kritik. Negara yang sehat adalah negara yang mampu menjawab kritik dengan data, bukan dengan rasa tersinggung.

Kita tentu berharap polemik ini memiliki penjelasan yang rasional. Bila memang pengadaan tersebut sesuai kebutuhan dan prosedur, bukalah seluruh prosesnya.

Publikasikan dokumennya. Jelaskan alasan teknisnya. Biarkan masyarakat menilai berdasarkan fakta, bukan berdasarkan dugaan.

Namun jika komunikasi pemerintah terus terlambat, jangan salahkan publik apabila mereka mulai meragukan setiap angka yang muncul.

Kepercayaan adalah mata uang politik yang nilainya jauh lebih tinggi daripada rupiah. Sekali nilainya jatuh, membangunnya kembali membutuhkan waktu yang panjang.

Karena itu, para pejabat sebaiknya berhenti menganggap kritik sebagai suara sumbang. Kritik adalah alarm yang memberi tahu bahwa ada sesuatu yang perlu dijelaskan. Alarm memang berisik, tetapi jauh lebih berbahaya jika rumah dibiarkan terbakar hanya karena kita tidak menyukai bunyinya.

Pada akhirnya, rakyat tidak membutuhkan pejabat yang pandai berbicara. Rakyat membutuhkan pejabat yang bersedia mempertanggungjawabkan setiap keputusan dengan jujur, terbuka, dan masuk akal.

Sebab sejarah tidak pernah mengingat siapa yang paling sering memberikan klarifikasi.

Sejarah hanya mengingat siapa yang berani mempertanggungjawabkan kekuasaan yang pernah diamanahkan kepadanya.[dit]