Opini  

Kapolri Menerangi Bukan Menyerang! Adhyaksa pun Kehilangan Bayangan

ADA tembok yang dibangun dari batu. Ada pula tembok yang dibangun dari pangkat, kewenangan, pengaruh, dan keyakinan bahwa tidak seorang pun cukup berani mengetuk pintunya.

Tembok kedua jauh lebih kokoh. Ia tidak terlihat, tetapi dapat dirasakan. Ia membuat orang kecil gemetar, pejabat memilih diam, dan aparat berpikir berkali-kali sebelum melangkah. Di balik tembok seperti itulah kekuasaan kerap merasa aman dari sorotan hukum.

Namun, setiap zaman selalu melahirkan pembawa cahaya.

Pada masa lalu, cahaya itu bernama Jenderal Hoegeng Iman Santoso. Ia membuktikan bahwa seragam kepolisian menemukan kehormatannya ketika dikenakan oleh orang yang tidak dapat dibeli dan tidak mudah ditaklukkan. Hoegeng tidak meninggalkan istana, kekayaan, atau dinasti. Ia meninggalkan sesuatu yang jauh lebih abadi: keberanian moral.

Lebih dari setengah abad kemudian, nyala itu kembali terlihat ketika Polri berani membuka kasus yang menyeret mantan Jampidsus Febrie Adriansyah. Kasus ini tidak hanya menyentuh seorang individu. Ia menyentuh lapisan kekuasaan, solidaritas korps, serta anggapan lama bahwa pejabat tinggi penegak hukum berada terlalu jauh untuk dijangkau aparat lain.

Di bawah kepemimpinan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Polri melangkah menuju tembok itu.

Tidak membawa kebencian. Tidak mengibarkan panji permusuhan. Polri datang membawa keberanian untuk mengatakan bahwa jabatan tinggi tidak boleh menjadi tempat persembunyian dari hukum.

Sang Jenderal dan Pintu yang Terlarang

Membongkar kejahatan biasa membutuhkan kemampuan. Membongkar perkara yang menyentuh orang kuat membutuhkan keberanian.

Febrie bukan pejabat biasa. Ia pernah berdiri di puncak penanganan perkara korupsi Kejaksaan Agung. Namanya melekat pada berbagai kasus besar. Ia pernah memimpin barisan yang memburu koruptor, menyita aset, dan membawa banyak orang ke hadapan pengadilan.

Karena itu, ketika jejak perkara justru mengarah kepadanya, suasana berubah.

Orang yang pernah memegang pedang hukum kini harus bersedia diuji oleh pedang yang sama.

Banyak pihak mungkin mengira tidak ada institusi yang cukup berani untuk menyentuhnya. Terlalu tinggi pangkatnya, terlalu luas jaringannya, terlalu besar pengetahuannya, dan terlalu dekat aksesnya kepada pusat kekuasaan.

Listyo Sigit membuktikan sebaliknya.

Di bawah komandonya, polisi tidak berhenti di depan nama besar. Mereka tidak menunduk di hadapan riwayat jabatan. Mereka tidak mundur hanya karena langkahnya dapat mengguncang hubungan antara dua institusi negara.

Pintu yang dianggap terlarang akhirnya diketuk.

Dan ketika pintu itu terbuka, seluruh republik melihat bahwa keberanian belum sepenuhnya hilang dari tubuh kepolisian.

Brankas dan Cahaya Kebenaran

Sebuah brankas pada dasarnya hanyalah benda mati. Namun, dalam kasus Febrie, brankas berubah menjadi lambang.

Ia menggambarkan sesuatu yang tertutup rapat, dijaga dengan hati-hati, dan disembunyikan dari pandangan orang banyak. Ketika brankas itu dibuka, yang keluar bukan hanya uang dan emas. Yang keluar adalah kegelisahan kekuasaan.

Publik melihat kekayaan dalam jumlah yang sulit dianggap biasa. Mereka melihat rumah, tempat usaha, tumpukan mata uang asing, dan emas puluhan kilogram. Semua itu belum menentukan siapa yang bersalah. Namun, semuanya menuntut penjelasan yang terang.

Polri menyalakan cahaya ke dalam ruang tersebut.

Cahaya tidak menghukum. Cahaya hanya memperlihatkan apa yang sebelumnya tersembunyi. Orang yang tidak bersalah tidak perlu takut kepada cahaya karena kebenaran akan membersihkan namanya. Namun, bagi siapa pun yang mengandalkan kegelapan, cahaya adalah ancaman terbesar.

Keagungan langkah Listyo Sigit bukan terletak pada banyaknya uang yang ditemukan atau beratnya emas yang ditimbang. Keagungannya terletak pada keberanian membiarkan rakyat melihat bahwa tidak ada ruang yang selamanya tertutup bagi hukum.

Hoegeng Tidak Pernah Pergi

Hoegeng telah lama tiada, tetapi api yang diwariskannya tidak pernah benar-benar padam.

Api itu hidup setiap kali seorang polisi menolak menukar kewenangan dengan kenyamanan.

Api itu hidup ketika aparat berani memilih kebenaran meskipun jabatan menjadi taruhan.

Api itu hidup ketika hukum berjalan tanpa terlebih dahulu mengukur seberapa dekat seseorang dengan kekuasaan.

Dalam kasus Febrie, api itu menemukan pundak baru.

Listyo Sigit tidak perlu menyebut dirinya penerus Hoegeng. Sejarah tidak dibangun oleh pengakuan diri. Sejarah dibangun oleh keputusan yang diambil ketika seseorang berada di bawah tekanan.

Ketika perkara menyentuh mantan pejabat tinggi, ia tidak memerintahkan barisannya berbalik.

Ketika situasi berpotensi mengguncang hubungan antarlembaga, ia tidak membiarkan ketakutan mengalahkan kewajiban.

Ketika risiko politik membesar, ia tidak menutup kembali pintu yang sudah dibuka penyidiknya.

Ia membiarkan hukum berjalan.

Itulah penghormatan tertinggi kepada Hoegeng. Bukan patung, seremoni, atau penghargaan tahunan, tetapi keberanian menghidupkan nilai-nilainya dalam perkara nyata.

Bukan Menyerang Adhyaksa

Nyala Hoegeng tidak datang untuk membakar Kejaksaan Agung. Ia datang untuk menerangi temboknya.