Korps Adhyaksa adalah salah satu tiang utama negara hukum. Ribuan jaksa mengabdi dengan jujur, mempertaruhkan tenaga dan keselamatan untuk membawa pelaku kejahatan ke pengadilan. Mereka tidak boleh dipersalahkan akibat dugaan perbuatan seorang mantan pejabat.
Justru karena Kejaksaan Agung begitu penting, tidak boleh ada satu orang pun yang menjadikannya tempat berlindung.
Institusi besar tidak jatuh ketika pejabatnya diperiksa. Institusi jatuh ketika kehormatannya digunakan untuk menghalangi pemeriksaan.
Polri tidak sedang merendahkan Adhyaksa dengan membuka kasus Febrie. Polri sedang memberikan kesempatan kepada Adhyaksa untuk membuktikan bahwa kehormatan institusi lebih besar daripada nasib seorang individu.
Jika Febrie tidak bersalah, hukum harus membersihkan namanya. Jika bukti menunjukkan keterlibatan, hukum harus menegakkan pertanggungjawaban. Dalam kedua keadaan, Kejaksaan Agung hanya akan menjadi lebih kuat apabila memilih berdiri bersama kebenaran.
Cahaya dari Trunojoyo seharusnya tidak dipandang sebagai serangan. Cahaya itu dapat menjadi obor yang diteruskan Adhyaksa sampai ke pengadilan.
Kursi yang Tidak Lebih Tinggi dari Kehormatan
Setiap Kapolri mengetahui bahwa jabatannya mempunyai batas waktu. Tongkat komando dapat berpindah. Bintang dapat dilepas. Penghormatan resmi dapat berhenti ketika masa jabatan berakhir.
Namun, keberanian tidak mengenal masa pensiun.
Hoegeng meninggalkan jabatan, tetapi namanya hidup lebih lama daripada banyak penguasa pada zamannya. Ia membuktikan bahwa seseorang dapat kehilangan kursi dan tetap memenangkan sejarah.
Listyo Sigit kini berdiri di hadapan ukuran yang sama.
Kasus Febrie dapat menentukan bagaimana generasi berikutnya mengenang kepemimpinannya. Bukan dari lamanya ia menjadi Kapolri, tetapi dari seberapa jauh ia berani membawa hukum ketika jalan di depannya dijaga kekuasaan.
Jika ia memilih kenyamanan, perkara ini akan menjadi satu lagi cerita tentang hukum yang berhenti di depan pagar elite.
Jika ia memilih keberanian, kasus ini akan menjadi penanda bahwa pernah ada masa ketika Polri menembus batas nyali dan menerangi bagian republik yang selama ini dibiarkan gelap.
Listyo Sigit telah memilih melangkah.
Ketika Tembok Mulai Kehilangan Bayangan
Tembok kekuasaan bertahan selama masyarakat tidak mengetahui apa yang berada di baliknya. Begitu cahaya masuk, tembok itu mulai kehilangan kekuatan.
Polri telah membuat kasus Febrie menjadi pengetahuan publik. Rumah telah diketahui. Brankas telah terbuka. Uang telah terlihat. Emas telah ditimbang. Status hukum telah diumumkan.
Apa pun yang terjadi setelah ini, semuanya tidak lagi dapat dikembalikan ke dalam kegelapan.
Jika perkara berjalan, rakyat akan mengawasinya.
Jika perkara melemah, rakyat akan melihatnya.
Jika hukum diperlakukan berbeda, rakyat akan mengingatnya.
Inilah kemenangan terbesar Listyo Sigit: bukan menjatuhkan seseorang, tetapi membuat kebenaran terlalu terang untuk dikubur diam-diam.
Ia mengubah perkara yang tersembunyi menjadi ujian terbuka bagi seluruh institusi penegak hukum.
Penutup: Sang Pembawa Api
Gajah Mada dikenang karena sumpahnya. Hoegeng dikenang karena kejujurannya. Listyo Sigit akan dikenang dari keberaniannya menjaga agar hukum tidak kehilangan nyali di hadapan kekuasaan.
Kasus Febrie belum selesai. Tidak ada alasan untuk mendahului pengadilan dan tidak ada seorang pun boleh dihukum oleh opini. Namun, satu bab penting telah ditulis.
Polri berani mengetuk pintu.
Polri berani membuka brankas.
Polri berani memperlihatkan temuan.
Polri berani menyentuh orang yang pernah berdiri di puncak penegakan hukum.
Di balik semua itu berdiri seorang Kapolri yang memahami bahwa kehormatan Bhayangkara tidak lahir dari ketakutan orang kepada polisi. Kehormatan lahir ketika rakyat percaya polisi tidak takut kepada siapa pun.
Listyo Sigit tidak membawa api untuk membakar tembok Adhyaksa. Ia membawanya agar tidak ada bagian dari rumah keadilan yang dibiarkan gelap.
Ketika nyala Api Hoegeng menerangi tembok Adhyaksa, bangsa ini kembali melihat sosok polisi yang selama ini dirindukannya: polisi yang berani, tenang, tegak, dan tidak mundur ketika kebenaran membawanya ke pintu orang kuat.
Tembok itu masih berdiri, tetapi bayangannya telah hilang.
Cahaya telah masuk.
Dan sang pembawa api itu bernama Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.
Oleh: Ir Haidar Alwi, MT., (Cendekiawan/Haidar Alwi Institute/Dewan Pembina Alumni ITB)











