Houthi Blokade Bab Al Mandab, Jalur Minyak Dunia Terancam Lumpuh dan Harga Berpotensi Melonjak
FAKTANASIONAL.NET – Ketegangan di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global. Milisi Houthi di Yaman mengumumkan pemblokiran jalur pelayaran Bab Al Mandab bagi kapal-kapal Arab Saudi di tengah penutupan Selat…
FAKTANASIONAL.NET – Ketegangan di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Milisi Houthi di Yaman mengumumkan pemblokiran jalur pelayaran Bab Al Mandab bagi kapal-kapal Arab Saudi di tengah penutupan Selat Hormuz oleh Iran, sehingga dua rute strategis perdagangan minyak dunia kini sama-sama berada dalam tekanan.
Bab Al Mandab merupakan jalur laut sempit dengan lebar sekitar 14 mil di titik tersempitnya atau lebih kecil sekitar 40 persen dibanding Selat Hormuz. Meski ukurannya terbatas, jalur tersebut memiliki peran vital dalam distribusi minyak dan perdagangan internasional.
Kepala Strategi Global RBC Capital Markets, Helima Crofts, mengatakan sebagian besar minyak Arab Saudi yang melewati kawasan itu biasanya dikirim melalui Teluk Persia.
Ia mengingatkan, apabila jalur tersebut benar-benar tidak dapat digunakan, maka gangguan pasokan minyak akan semakin serius. Pernyataan tersebut dikutip dari CNN Indonesia, mengutip laporan media internasional (24/7/2026).
Arab Saudi sendiri diketahui telah mengalihkan sekitar 4 hingga 5 juta barel minyak per hari melalui pelabuhan Yanbu sebagai langkah antisipasi.
Situasi semakin memburuk setelah Houthi pada Selasa (21/7/2026) memperingatkan kapal-kapal Arab Saudi agar menghindari Laut Merah.
Sejumlah operator pelayaran langsung merespons ancaman tersebut. Berdasarkan laporan Windward Intelligence yang dikutip CNN Indonesia, sedikitnya lima kapal tanker memutar balik usai pengumuman itu, termasuk kapal pengangkut minyak menuju China yang berbalik arah di dekat perairan Yaman.
Di saat bersamaan, konflik Amerika Serikat dan Iran kembali memanas sehingga Teheran kembali menutup Selat Hormuz. Serangan terhadap kapal tanker juga memperlambat lalu lintas di selat tersebut menjadi hanya beberapa penyeberangan per hari.
Para analis menilai apabila blokade Bab Al Mandab berlangsung efektif, harga minyak dunia berpotensi melampaui US$100 per barel. Kondisi itu juga dikhawatirkan memicu keterlibatan militer Amerika Serikat lebih jauh serta menghambat pengiriman bahan bakar Arab Saudi ke kawasan Eropa dan Asia.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.