Arab Saudi sendiri diketahui telah mengalihkan sekitar 4 hingga 5 juta barel minyak per hari melalui pelabuhan Yanbu sebagai langkah antisipasi.
Situasi semakin memburuk setelah Houthi pada Selasa (21/7/2026) memperingatkan kapal-kapal Arab Saudi agar menghindari Laut Merah.
Sejumlah operator pelayaran langsung merespons ancaman tersebut. Berdasarkan laporan Windward Intelligence yang dikutip CNN Indonesia, sedikitnya lima kapal tanker memutar balik usai pengumuman itu, termasuk kapal pengangkut minyak menuju China yang berbalik arah di dekat perairan Yaman.
Di saat bersamaan, konflik Amerika Serikat dan Iran kembali memanas sehingga Teheran kembali menutup Selat Hormuz. Serangan terhadap kapal tanker juga memperlambat lalu lintas di selat tersebut menjadi hanya beberapa penyeberangan per hari.
Para analis menilai apabila blokade Bab Al Mandab berlangsung efektif, harga minyak dunia berpotensi melampaui US$100 per barel. Kondisi itu juga dikhawatirkan memicu keterlibatan militer Amerika Serikat lebih jauh serta menghambat pengiriman bahan bakar Arab Saudi ke kawasan Eropa dan Asia.[dit]











