Entah Dia Terlalu Dingin, Atau Aku yang Terlalu Ingin

Entah Dia Terlalu Dingin, Atau Aku yang Terlalu Ingin

HARI Minggu selalu punya cara yang aneh untuk membuat hati berbicara lebih jujur.

Di tengah kesunyian, aku mulai bertanya-tanya. Entah dia memang terlalu dingin, atau sebenarnya aku yang terlalu ingin.

Terlalu ingin didengar. Terlalu ingin dipahami. Terlalu ingin diperjuangkan.

Kadang kita menyebutnya takdir, padahal mungkin hanya perbedaan kadar rasa.

Satu pihak menganggap semuanya biasa saja, sementara pihak lain diam-diam menaruh harapan yang terlalu besar.

Lucunya, yang paling melelahkan bukanlah menunggu balasan pesan.

Yang paling melelahkan adalah menunggu kepastian dari seseorang yang tidak pernah benar-benar berniat memberi kepastian.

Mungkin bukan dia yang salah. Bisa jadi memang aku yang terlalu banyak berharap pada isyarat-isyarat kecil yang ternyata tak pernah memiliki makna sebesar yang kubayangkan.

Hari ini aku belajar, tidak semua yang kita perjuangkan akan memperjuangkan kita kembali.