“Dua-duanya dilakukan (China dan Indonesia). Jadi, kami juga tembak juga,” kata Bahlil.
Pemerintah menaruh harapan besar agar proses sertifikasi keselamatan ini berjalan lancar sehingga sosialisasi awal kepada masyarakat bisa dimulai secepatnya.
“Doakan saja, doakan, ya. Yang terbaik untuk ibu pertiwi tercinta,” tutur Bahlil.
Tantangan Teknis Tekanan Tinggi dan Solusi Impor Energi
Secara teknologi, penggunaan CNG sebenarnya bukan hal baru di Indonesia karena sudah lama dimanfaatkan pada sektor perhotelan, restoran, kafe (horeka), hingga konsumsi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Namun, selama ini CNG hanya dikemas dalam tabung-tabung berukuran besar berkapasitas 10 hingga 20 kilogram.
Tantangan terbesar dalam menghadirkan ukuran mikro 3 kg terletak pada faktor ketahanan material.
CNG memiliki tekanan gas yang jauh lebih tinggi—mencapai 200 hingga 250 bar—dibandingkan LPG biasa yang hanya berkisar antara 5 sampai 10 bar.
Di samping tantangan teknisnya, pemerintah terus mendorong pemanfaatan CNG demi mengurangi beban ketergantungan impor LPG nasional.
Keunggulan utama CNG adalah seluruh bahan bakunya bersumber dari dalam negeri melalui ketersediaan gas alam yang sangat melimpah.
Langkah ini kian kuat seiring ditemukannya cadangan gas baru di wilayah Kalimantan Timur yang berpotensi besar diakomodasi penuh untuk pemenuhan kebutuhan energi domestik.
Baca Juga: Bos Lippo dan Pakuwon Klarifikasi Soal Pagar Mal, Tegaskan Keamanan Indonesia Tetap Kondusif











