Setelah berkeliling kota, mereka kembali ke Polres.
Yang terjadi kemudian justru menjadi bagian paling emosional dari cerita tersebut.
Sebelum pulang, Marlina menangis tersedu-sedu. Ia berterima kasih kepada polisi karena telah mengabulkan keinginannya. Marlina bahkan mendoakan petugas agar selalu sehat, panjang umur, dan memperoleh banyak rezeki.
Kisah ini kemudian diberitakan sebagai contoh kecil mengenai sisi humanis polisi.
Plt. Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Yudhi Surya Markus Pinem menyampaikan apresiasi terhadap tindakan personel Polres Labuhanbatu.
Menurutnya, polisi tidak hanya mempunyai fungsi penegakan hukum, tetapi juga harus mampu hadir dalam persoalan masyarakat sepanjang permintaan tersebut masih wajar dan tidak melanggar aturan.
Peristiwa tersebut sederhana. Tidak ada konflik besar. Tidak ada kerugian material. Tidak ada korban. Tetapi justru karena kesederhanaannya, cerita ini mempunyai nilai human interest.
Di tengah pemberitaan mengenai kriminalitas, korupsi, kecelakaan dan konflik, sebuah peristiwa kecil yang memperlihatkan interaksi manusiawi dapat menjadi berita yang menghibur.
Apalagi keinginan Marlina bukan sesuatu yang lazim diasosiasikan dengan masa kehamilan. Yang menarik bukan soal apakah “ngidam naik mobil polisi” mempunyai penjelasan medis tertentu. Berita tersebut tidak membuktikan hal itu.
Yang terverifikasi hanyalah bahwa Marlina mengaku menginginkan pengalaman tersebut, suaminya membawa dia ke polisi, dan polisi mengabulkannya.
Dengan demikian, inti cerita bukanlah soal keanehan kehamilan.
Intinya adalah bagaimana sebuah institusi yang biasanya dikenal keras—polisi—justru menghadapi permintaan yang sangat personal dengan cara yang lembut. (*)







