FAKTANASIONAL.NET – Di sebuah gang yang sebelumnya dikenal kumuh di Jakarta Timur, perubahan tidak dimulai dari proyek gedung baru atau jalan baru. Perubahan dimulai dari sesuatu yang biasanya dibuang orang: botol plastik, kardus, kertas, kaleng dan logam bekas.
Pada April 2026, ANTARA mengangkat kisah pengelolaan sampah yang dilakukan warga dan petugas PPSU di sejumlah wilayah Jakarta Timur. Judulnya sederhana tetapi kuat: “Kisah sunyi mengubah sampah jadi rupiah.”
Sampah anorganik yang sebelumnya dianggap tidak berguna ternyata mempunyai nilai ekonomi.
Caranya tidak rumit.
Sampah dipilah sejak awal. Plastik dipisahkan dari kertas. Kardus dipisahkan dari logam. Setelah dikumpulkan dalam jumlah tertentu, sampah tersebut disetorkan ke bank sampah atau pengepul.
Uang kemudian diperoleh berdasarkan berat dan jenis material.
Dikutip dari ANTARA, 19 April 2026 di Kelurahan Utan Kayu Selatan, misalnya, petugas PPSU bernama Cecep Ghori Muslim menjelaskan nilai sejumlah jenis sampah. Dalam laporan ANTARA, satu kilogram kertas dihargai sekitar Rp2.400, kardus Rp1.800, botol mineral Rp2.400, besi ringan Rp3.500, besi isi Rp4.500, aluminium bekas minuman Rp25.000 dan aluminium berat Rp27.000.
Jika dilihat satu kilogram, angka itu mungkin tampak kecil.
Tetapi persoalannya bukan satu kilogram.
Ketika sampah dikumpulkan secara rutin oleh puluhan orang, jumlahnya menjadi ratusan kilogram bahkan mendekati satu ton.
Di Kelurahan Cibubur, misalnya, program yang melibatkan puluhan petugas PPSU mampu mengumpulkan hampir satu ton sampah dalam sebulan. Nilai ekonominya mencapai sekitar Rp3 juta hingga Rp4 juta per bulan.
Hasil tersebut kemudian dibagi secara proporsional berdasarkan kontribusi masing-masing anggota.
Sistem tersebut mempunyai efek yang menarik.
Orang tidak lagi melihat botol plastik yang berserakan hanya sebagai benda kotor.
Botol tersebut mulai dipandang sebagai benda yang memiliki nilai.
Perubahan cara pandang ini penting karena persoalan sampah perkotaan pada dasarnya bukan semata-mata persoalan tempat pembuangan akhir. Sampah muncul dari rumah, pasar, sekolah, kantor, tempat ibadah dan berbagai aktivitas manusia.
Jika semuanya dibuang begitu saja, tempat pembuangan akhir akan menerima seluruh bebannya.
Sebaliknya, jika sebagian sampah dipilah dari sumbernya, sebagian dapat masuk ke siklus ekonomi.







