FAKTANASIONAL.NET – Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kepulauan Selayar (BPBD Kabupaten Kepulauan Selayar) mengungkapkan sekitar 50 Kepala Keluarga (KK) di kabupayen ini masih bertahan di pengungsian di wilayah perbukitan.
Pasalnya, mereka masih mengalami trauma dampak gempa dahsyat yang melanda wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Keputusan warga untuk tetap berada di pengungsian tidak terlepas dari pengalaman buruk saat gempa magnitudo 7,4 pada 14 Desember 2021,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Kepulauan Selayar, Muhammad Ikbal di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) pada Ahad (16/8/2026).
Gempa berpusat di wilayah Flores dirasakan kuat di Selayar, khususnya Kecamatan Pasilambena dan Kecamatan Pasimarannu. Sejumlah rumah warga mengalami kerusakan parah, bahkan roboh dan rata dengan tanah.
Muhammad Ikbal mengemukakan para pengungsi masih bertahan di lokasi pengungsian, karena mereka trauma dengan kejadian sebelumnya, terutama kejadian 2021.
Saat gempa M7,0 kembali terjadi di Kecamatan Pasilambena dan Pasimarannu, maka warga secara mandiri menyelamatkan diri menuju kawasan perbukitan. Di Pasimarannu tercatat sekitar 278 KK mengungsi, sementara di Pasilambena sekitar 130 KK.
“Namun, warga Pasilambena telah berangsur kembali ke rumah, sedangkan di Pasimarannu, sekitar 20% dari total pengungsi atau sekitar 50 KK masih memilih bertahan di perbukitan,” ujarnya.







