Jika kita merindu, maka suatu hari harus ada pertemuan.
Namun semakin banyak usia mengajarkan saya tentang kehilangan, semakin saya sadar bahwa hidup tidak selalu bekerja seperti itu.
Ada orang yang hadir hanya untuk mengajarkan arti pertemuan.
Ada yang pergi untuk mengajarkan arti kehilangan.
Ada yang tinggal cukup lama untuk mengubah cara kita memandang kehidupan.
Dan ada pula yang bahkan tidak pernah menjadi milik kita, tetapi namanya mampu tinggal begitu lama di dalam hati.
Mungkin itulah mengapa pagi ini saya memilih lagu-lagu jiwang.
Bukan karena saya sedang kalah.
Bukan pula karena saya sedang meminta seseorang kembali.
Barangkali saya hanya sedang memberikan kesempatan kepada hati untuk berbicara tanpa harus dihakimi oleh logika.
Biarlah pagi ini hati sedikit manja.
Biarlah ia mengenang.
Biarlah ia merindu.
Sebab bahkan hati yang paling keras pun membutuhkan satu pagi untuk mengakui bahwa dirinya pernah rapuh.
Dan jika hari ini saya berkata, “Tidak sanggup merindu,” mungkin sebenarnya saya sedang mengatakan sesuatu yang jauh lebih sederhana:
Saya pernah begitu peduli.
Bukankah hanya orang yang pernah peduli yang mampu merasakan rindu sedalam itu?
Namun rindu juga mengajarkan kebijaksanaan.
Ia mengajarkan bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki. Menunggu tidak selalu berarti seseorang akan datang. Dan kehilangan tidak selalu berarti kehidupan telah selesai.
Kadang Tuhan mengambil sesuatu dari tangan kita bukan karena Dia ingin membuat kita menderita, melainkan karena Dia tahu tangan itu harus dikosongkan agar bisa menerima sesuatu yang lebih baik.
Maka pagi ini, setelah ritual subuh, saya kembali menulis.
Besok mungkin saya akan kembali menulis tentang dunia yang keras. Tentang hukum, tentang kekuasaan, tentang manusia yang lupa bahwa jabatan hanyalah sementara.
Mungkin playlist Raja Koruptor kembali berputar. Mungkin musik keras kembali memenuhi ruangan.
Tetapi hari ini, biarkan saya menjadi sedikit manusia.
Biarkan saya duduk bersama rindu.
Biarkan saya mendengarkan lagu-lagu yang membuat hati berkata, “Agrh…”
Dan biarkan tulisan ini menjadi saksi kecil bahwa pernah ada satu subuh ketika saya tidak sedang mengejar berita, tidak sedang mengejar angka, tidak sedang mengejar siapa pun.
Saya hanya sedang mengejar sebuah perasaan yang sejak tadi berusaha saya sembunyikan.
Rindu.
Namun pada akhirnya saya mengerti:
Rindu tidak selalu meminta seseorang untuk kembali. Kadang ia hanya meminta kita mengakui bahwa seseorang pernah begitu berarti.
Dan setelah pengakuan itu selesai, kita boleh kembali berjalan.
Sebab hidup tidak pernah memerintahkan kita untuk berhenti hanya karena satu nama masih tinggal di dalam ingatan.
Mungkin begitulah cara hati berdamai.
Bukan dengan melupakan.
Tetapi dengan menerima.
Yah… itulah saya.
Seorang yang setelah subuh terbiasa menulis.
Dan kalau suatu pagi saya tidak menulis, mungkin hari esok memang akan datang menagih.
Bukan hutang kepada pembaca.
Bukan hutang kepada dunia.
Melainkan hutang kepada diri sendiri.
Karena ada kata-kata yang harus dilahirkan, sebelum ia berubah menjadi sesak.
Dan pagi ini, kata itu adalah:
“Tidak Sanggup Merindu.”
Wk…[dit]











