Karhutla dan Asap Mengepung Kalimantan

Karhutla Mengepung Kalimantan: Alarm Asap/(google)

Tidak masuk akal.

Pemerintah memang memiliki tanggung jawab besar. Tetapi masyarakat juga tidak boleh merasa bahwa seluruh persoalan karhutla adalah urusan pemerintah.

Ketika melihat titik api, laporkan.

Ketika melihat seseorang membakar lahan secara sembarangan, tegur jika aman untuk dilakukan atau laporkan kepada pihak berwenang.

Ketika kualitas udara buruk, jangan memaksakan diri beraktivitas di luar.

Ketika anak-anak membutuhkan perlindungan lebih, jangan anggap mereka “cuma kena asap sedikit”.

Kita juga perlu lebih disiplin dalam menerima informasi.

Di tengah situasi seperti ini, media sosial biasanya menjadi tempat pertama masyarakat mencari kabar. Tagar seperti #PrayForKalimantan kemudian bermunculan.

Saya tidak keberatan dengan doa.

Doa penting.

Tetapi Kalimantan juga membutuhkan lebih dari sekadar doa.

Ia membutuhkan pengawasan, kebijakan yang konsisten, penegakan hukum, data yang transparan, edukasi masyarakat, dan tindakan nyata.

Jangan sampai kita terlalu rajin membuat unggahan “Pray for Kalimantan”, tetapi lima menit kemudian membakar sampah di belakang rumah tanpa memikirkan angin.

Itu namanya algoritma sudah peduli, tetapi perilaku belum.

Dan mungkin ini bagian paling lucu sekaligus paling menyedihkan dari kebiasaan kita menghadapi bencana.

Ketika bencana terjadi, kita kompak.

Ketika keadaan membaik, kita lupa.

Lalu tahun berikutnya kita panik lagi.

Siklusnya hampir seperti kalender.

Kita seolah-olah punya musim kemarau, musim hujan, dan musim “kaget karena karhutla”.

Padahal seharusnya tidak demikian.

Kita perlu mengubah cara berpikir dari reaktif menjadi preventif.

Jangan menunggu kabut asap masuk ke kota untuk sadar bahwa hutan sedang terbakar.

Jangan menunggu rumah sakit penuh untuk bicara tentang kualitas udara.

Jangan menunggu satwa liar masuk permukiman untuk sadar bahwa habitat mereka sedang hilang.

Dan jangan menunggu ada korban jiwa untuk menganggap karhutla sebagai persoalan serius.

Edukasi Sederhana: Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Pada akhirnya, masyarakat mungkin bertanya, “Saya harus melakukan apa?”

Pertama, kurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Anak-anak, lansia, dan kelompok rentan perlu mendapat perhatian lebih.

Kedua, gunakan masker yang sesuai ketika harus keluar. Masker medis atau N95 dapat menjadi pilihan sesuai kondisi dan kebutuhan, terutama ketika paparan partikulat meningkat.

Ketiga, jangan membakar lahan atau sampah sembarangan. Api kecil bukan jaminan bahwa dampaknya juga kecil.

Keempat, ketika berkendara dalam kondisi kabut asap, nyalakan lampu kendaraan, kurangi kecepatan, dan jaga jarak. Keselamatan di jalan juga menjadi persoalan karena jarak pandang dapat menurun drastis.

Kelima, jangan menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Dalam situasi bencana, informasi palsu dapat membuat kepanikan menjadi lebih besar.

Keenam, jika menemukan titik api atau kepulan asap mencurigakan, laporkan kepada BPBD, Manggala Agni, atau posko penanganan terdekat.

Dan yang paling penting, jangan menganggap karhutla sebagai berita musiman.

Hari ini mungkin asap berada di wilayah lain. Besok bisa saja angin membawanya ke tempat kita.

Kalimantan bukan sekadar peta yang dipenuhi warna hijau.

Ia adalah rumah bagi manusia, satwa, hutan, sungai, dan kehidupan yang tidak bisa dihitung hanya dengan angka ekonomi.

Karena itu, ketika ribuan titik panas muncul, yang seharusnya terbakar bukan hanya hutan.

Kesadaran kita juga harus ikut menyala.

Tetapi bedanya, kesadaran tidak boleh menjadi api yang membakar.

Ia harus menjadi cahaya yang membuat kita melihat kesalahan dengan lebih jelas.

Kita boleh marah kepada pemerintah ketika penanganan buruk. Kita boleh mengkritik aparat ketika pengawasan lemah. Kita boleh mempertanyakan perusahaan ketika ada dugaan pelanggaran. Kita boleh menuntut penegakan hukum.

Namun setelah itu, mari bercermin.

Sebab menjaga lingkungan bukan hanya pekerjaan pejabat, petugas pemadam, atau aktivis lingkungan.

Ia dimulai dari perilaku manusia biasa.

Dari orang yang tidak membuang puntung rokok sembarangan.

Dari warga yang tidak membakar lahan.

Dari orang tua yang mengajarkan anak tentang bahaya api.

Dari pemerintah yang serius melakukan pencegahan.

Dari aparat yang berani menindak.

Dari perusahaan yang bertanggung jawab.

Dan dari media yang tidak hanya memberitakan asap ketika sudah viral.

Saya kira sudah waktunya kita berhenti melihat karhutla sebagai sesuatu yang “biasa terjadi setiap tahun”.

Karena sesuatu yang terjadi berulang kali tidak otomatis menjadi sesuatu yang normal.

Kalau setiap tahun kita kehilangan hutan, menghirup asap, melihat satwa kehilangan habitat, anak-anak terganggu aktivitasnya, petugas berjibaku memadamkan api, dan masyarakat mengalami kerugian, lalu kita menyebutnya biasa, mungkin bukan bencananya yang sudah normal.

Mungkin kita yang sudah terlalu terbiasa dengan bencana.

Dan itu jauh lebih berbahaya.

Kalimantan tidak hanya membutuhkan tagar.

Kalimantan membutuhkan tindakan.

Sebab pada akhirnya, yang kita wariskan kepada generasi berikutnya bukan sekadar angka titik panas, foto kabut asap, atau video kebakaran.

Kita sedang menentukan apakah mereka kelak masih bisa melihat hutan sebagai rumah kehidupan, atau hanya mengenalnya dari cerita orang tua.

Jangan sampai nanti anak cucu bertanya, “Dulu Kalimantan memang banyak hutannya?”

Lalu kita hanya bisa menjawab sambil menunduk:

“Ya, dulu.”

Dan saya kira, tidak ada kalimat yang lebih menyakitkan daripada itu.[dit]