Opini  

Siswi Keracunan MBG di Berastagi Masih Dirawat di RS

Siswi Keracunan MBG di Berastagi Masih Dirawat di RS/(Foto Ai hanya ilustrasi)

Begitulah satire negeri ini. Di satu tempat, makanan dirayakan. Di tempat lain, akibatnya sedang dirawat. Di satu panggung, program dipamerkan sebagai keberhasilan.

Di satu ruangan sempit, seorang anak sedang berjuang agar tidak kehilangan masa depannya. Tiga siswa masih dirawat di RSU Haji Medan. Dua berada di ruang intensif. KM termasuk yang paling parah.

Ikan yang disebut dibiarkan di suhu ruangan lebih dari 12 jam. Dapur ditutup. Kepala SPPG dicopot. Investigasi berjalan. Tetapi semua datang setelah tubuh anak-anak terlebih dahulu membayar harganya.

Jangan pernah melihat 361 hanya sebagai angka. Di balik angka itu ada 361 nama. Ada ibu. Ada ayah. Ada rumah. Ada cita-cita. Ada anak-anak seharusnya pulang membawa cerita tentang sekolah, bukan membawa infus dan rasa sakit.

Malam terus berjalan. Karnaval selesai. Tepuk tangan berhenti. Kamera mati. Namun di PICU, monitor masih berbunyi. Tit… tit… tit…

Seperti mengetuk pintu Tuhan. Seorang ibu masih menunggu. Menunggu anaknya membuka mata sepenuhnya. Menunggu suara kecil itu kembali memanggil, “Ibu…”

Mungkin, pada saat itulah, seluruh kemegahan program, panggung, kamera, slogan, dan omprengan menjadi tak berarti. Karena bagi pemerintah, anak mungkin tercatat sebagai angka.

Tetapi bagi seorang ibu, anak adalah seluruh dunia. Ketika seluruh dunia itu terbaring tak berdaya, tak ada karnaval cukup meriah untuk menghapus air mata.

“Bang, terus terang saya sedih, membayangkan itu anak saya.”

“Semua sedih, wak. Kecuali…ah sudahlah, bagus kita seruput Koptagul, yok!” Ups

Penulis: Rosadi Jamani