NUAN bayangkan tiga kali hat-trick korupsi, tapi tak ada kapoknya. Sudah ketahuan kotor, maling uang rakyat, masih dikasih jabatan, masih dikasih kerjaan. “Bodo siape diangkot,” kata budak Pontianak. Yok kita bedah anak mediang artis dangdut A. Rafiq ini sampai tulangnya. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Fahd El Fouz alias Fahd A Rafiq lahir 1 Januari 1970. Ayahnya A. Rafiq ahli menggoyang panggung, anaknya ahli menggoyang kas negara. Kakaknya Fadia A. Rafiq jadi bupati yang juga mampir ke KPK, adiknya Fairuz ikut orbit keluarga, istrinya Ranny duduk di DPR RI Partai Golkar, tiga anaknya tumbuh di tengah aroma rompi oranye. Keluarga yang solid. Solid sampai tembus bui berkali-kali.
Di organisasi dia juara bertahan. Ketua AMPG, Ketua Bidang Pemuda dan Olahraga MKGR, Ketua Umum KNPI 2015–2018, Ketua Umum DPP Bapera, lalu puncaknya Ketua DPP Golkar Bidang Hubungan Ormas 2024–2029. Setiap kali keluar dari penjara, jabatannya naik. Seolah bui adalah sekolah kader terbaik. Semakin sering masuk, semakin dipercaya. Sistem ini bukan tolak ukur integritas, tapi tolak ukur seberapa tahan kamu diinjak-injak dan tetap bisa tersenyum.
Karier korupsinya dibuka dengan gaya sadis. 2010–2011 dia setor Rp5,5 miliar ke Wa Ode Nurhayati biar tiga kabupaten di Aceh dapat DPID. Vonis 2,5 tahun plus denda Rp50 juta. Ditahan 27 Juli 2012, bebas bersyarat 23 Agustus 2014. Keluar seperti baru selesai spa. Langsung comeback.
Belum kering bau sel, 2017 dia main lagi di Kementerian Agama. Proyek Al-Qur’an dan laboratorium komputer MTs. Terima suap Rp3,411 miliar. Vonis naik jadi 4 tahun plus denda Rp200 juta. Tidak banding. Keluar lagi, dan langsung disambut di struktur DPP Golkar seolah pahlawan pulang perang.
Lalu datanglah hat-trick yang paling kejam. 14 September 2026 OTT KPK di BPN Bogor. Suap HGB lahan Summarecon. Fahd diduga penampung uang, orang kepercayaan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid. Ada 17 orang diamankan, ratusan miliar dalam puluhan koper termasuk valas. KPK bilang residivis, hukumannya harus diperberat. Dia turun dari lantai dua Gedung Merah Putih pakai rompi oranye, diborgol, masuk mobil tahanan. Ketiga kalinya. Hat-trick. Kalau ini sepak bola, dia sudah diarak sambil diludahi.
Di sini sistem ini benar-benar gila. Sudah dua kali dipenjara, masih dikasih jabatan strategis. Sudah residivis, masih dipelihara sebagai orang dekat menteri. Sudah rekam jejaknya lebih busuk dari sel tahanan, masih ada yang bilang “hormati proses hukum” sambil tetap membiarkannya duduk nyaman. Korupsi bukan aib. Korupsi adalah skill. Semakin sering kamu mencuri, semakin kamu dianggap “berpengalaman”.











