Ada pula Muslim yang tidak merayakannya karena menganggap Maulid tidak dilakukan Nabi dan sahabat sehingga termasuk bid’ah. Arab Saudi dan Qatar tidak menetapkannya sebagai hari libur nasional maupun menyelenggarakan perayaan resmi. Namun di sebagian wilayah Hijaz, termasuk Makkah dan Madinah, ada masyarakat memperingatinya sederhana di rumah.
Indonesia justru punya kekayaan luar biasa. Ada Sekaten di Jawa, Weh-wehan di Kaliwungu yang mengajarkan berbagi makanan, Malam Cocogen di Bangkalan dengan doa, selawat, rebana, dan gunungan buah. Halmahera Tengah punya Coka Iba dan Fanten. Masyarakat Banjar memiliki Baayun Maulid, mengayun anak sambil berselawat. Gorontalo punya Walima dengan Toyopo dan Tolangga. Banyuwangi punya Endog-Endogan. Kediri punya tradisi melempar uang sambil berselawat. Ada pula Panjang Jimat di Cirebon, Bunga Lado di Padang, dan Arakan Perahu di Tangerang.
Malaysia, Brunei, bahkan komunitas Muslim di Amerika Serikat turut mengembangkan Maulid dengan sentuhan budaya lokal.
Inilah menariknya Islam. Ia bisa berinteraksi dengan budaya tanpa kehilangan ruhnya. Maulid bukan sekadar acara makan-makan, rebana, atau pengeras suara yang membuat ayam tetangga ikut selawat. Ia bisa menjadi ruang pendidikan, sedekah, silaturahmi, dan pengingat akhlak Rasul.
Maka yang Maulid, jangan merasa sudah memegang tiket surga. Yang tidak Maulid, jangan pula merasa berhak mengirim tetangga ke neraka. Perbedaan pendapat mestinya membuat kita dewasa, bukan membuat kita berubah menjadi satpam pintu surga.
Sebab cinta kepada Nabi bukan diukur dari seberapa panjang kita berdebat tentang Maulid, tetapi dari seberapa jauh akhlak Muhammad saw hidup dalam diri kita. Jangan sampai setiap tahun kita merayakan kelahiran manusia paling mulia, tetapi akhlaknya malah kita titipkan di gudang, lalu lupa mengambilnya. Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad saw semua.
Penulis: Rosadi Jamani










