Haidar Alwi: Survei Tempo Data Science layak Dipertanyakan

JAKARTA, FAKTANASIPNAL.NET – Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI) sekaligus Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, Ir R Haidar Alwi, menyampaikan ulasan kritis terkait Survei Nasional Tempo Data Science 2026.

“Survei Nasional Tempo Data Science 2026 belum layak diperlakukan sebagai potret utuh pendapat rakyat Indonesia,” kata Haidar Alwi, Sabtu (29/8/2026). Berikut ulasannya:

LAPORAN setebal 50 halaman itu berani menyimpulkan kepuasan terhadap pemerintahan Prabowo–Gibran tinggal 37 persen, elektabilitas Dedi Mulyadi mencapai 42 persen, serta dukungan terhadap Prabowo terus merosot.

Tempo Data Science menyebut survei melibatkan 1.260 responden di 38 provinsi melalui multistage random sampling dengan margin of error ±2,9 persen.

Tidak dijelaskan kerangka sampel, jumlah kabupaten, kecamatan, desa, blok sensus, jumlah klaster, cara memilih rumah tangga, cara menentukan responden dalam rumah tangga, jumlah penolakan, penggantian responden, response rate, pembobotan, design effect, maupun effective sample size.

Tanpa informasi tersebut, klaim bahwa setiap warga memiliki peluang yang sama untuk terpilih sebagai responden belum dapat dibuktikan. Istilah multistage random sampling akhirnya hanya menjadi label metodologis, bukan prosedur yang dapat diperiksa.

Margin of error ±2,9 persen juga berpotensi menyesatkan apabila diperlakukan sebagai jaminan ketepatan seluruh hasil. Angka itu mendekati perhitungan simple random sampling untuk 1.260 responden.

Padahal Tempo mengaku memakai sampling bertingkat dan berklaster. Desain seperti itu lazimnya meningkatkan ketidakpastian karena responden dalam satu wilayah cenderung memiliki karakteristik yang serupa.

Jika design effect survei mencapai 1,5, margin of error nasional dapat melebar menjadi sekitar ±3,4 poin. Jika design effect mencapai 2, ketidakpastiannya menjadi sekitar ±3,9 poin. Tempo Data Science tidak membuka design effect, sehingga angka ±2,9 persen tidak dapat diverifikasi.

Lebih fatal lagi, margin of error nasional itu tidak berlaku untuk analisis provinsi, kelompok usia, penerima program, pendukung tokoh, dan pemilih partai.

Banten hanya menyumbang sekitar 4,4 persen sampel atau kurang lebih 55 responden. Ketika laporan menyebut ketidakpuasan di Banten mencapai 76 persen, margin of error sederhananya sudah berada di kisaran ±11 poin. Angka tersebut dapat lebih lebar setelah memperhitungkan klaster dan pembobotan.

Hal yang sama terjadi ketika Tempo Data Science menyatakan ketidakpuasan penerima MBG tertinggi berada di Banten sebesar 65 persen. Jika proporsi penerima MBG di Banten mengikuti angka nasional, kesimpulan itu mungkin hanya bertumpu pada sekitar 30 responden. Ketidakpastiannya dapat melampaui ±16 poin.

Menobatkan suatu provinsi sebagai yang tertinggi berdasarkan basis sekecil itu merupakan klaim yang jauh lebih besar daripada kemampuan datanya.

Kelemahan paling jelas terlihat pada analisis perpindahan pemilih PSI. Laporan menyebut sekitar 1 persen responden mengaku memilih PSI pada Pemilu 2024. Satu persen dari 1.260 responden hanya sekitar 13 orang. Dari kelompok sangat kecil itu, Tempo Data Science menyimpulkan 28 persen suara PSI berpindah ke Golkar.

Secara kasar, angka 28 persen tersebut dapat mewakili hanya tiga atau empat orang. Data tiga atau empat responden kemudian diubah menjadi narasi perpindahan suara partai secara nasional. Ini bukan presisi, tapi kesimpulan dari basis yang secara statistik tidak memadai.

Analisis citra tokoh juga menghadapi persoalan serupa. Penilaian terhadap Gibran dibangun dari 61 responden, Ganjar 50 responden, dan AHY hanya 40 responden. Pada basis 40 responden, margin of error sederhana dapat mencapai sekitar ±15 poin. Perbedaan antartokoh yang terlihat besar dalam grafik belum tentu bermakna secara statistik.

Laporan ini juga mengandung inkonsistensi internal. Pada halaman 19, skor kepuasan Prabowo ditampilkan sebesar 5,8, Prabowo–Gibran 5,7, dan Gibran 5,3. Namun, kotak kesimpulan pada halaman yang sama menyebut skor rata-rata Prabowo–Gibran sebesar 5,8. Dua angka berbeda digunakan untuk objek yang sama.

Executive summary menyebut 29 persen responden belum menentukan atau merahasiakan pilihan partai. Grafik pilihan partai hanya menunjukkan 24 persen. Bagian “Top 5 Alasan” menampilkan enam alasan. Elektabilitas dalam format terbuka hanya berjumlah sekitar 86 persen, sementara format dengan daftar nama hanya sekitar 92 persen. Sisa jawaban tidak dijelaskan secara memadai.

Klaim kesan positif terhadap Dedi Mulyadi sebesar 98 persen juga menggunakan denominator yang berbeda dari grafik. Grafik menunjukkan 73 persen positif dan 22 persen sangat positif, sehingga totalnya 95 persen. Angka 98 persen baru muncul setelah jawaban tidak tahu dikeluarkan dari perhitungan. Perubahan basis tersebut tidak dijelaskan kepada pembaca.