Kepala Pelaksana BPBPK Kalteng Ahmad Toyib mengatakan api tersebut merupakan lanjutan dari titik kebakaran sebelumnya.
“Tumbang Nusa memang menjadi salah satu perhatian kita. Kejadian tadi malam merupakan lanjutan dari posisi api sebelumnya yang memang sudah menyala,” katanya, dikutip dari Antara.
Menurut Toyib, pemadaman malam hari terkendala risiko medan dan keterbatasan pengerahan pasukan darat. Jarak pandang di Palangka Raya dan sekitarnya yang menurun juga menghambat operasi udara.
“Visibility di Palangka Raya dan sekitarnya menurun jauh dari standar biasa. Optimalisasi WB melalui satgas udara tidak bisa dilakukan secara maksimal. Pergerakan kepala api menjadi cukup cepat karena didukung angin kencang di lokasi,” paparnya.
Data Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Karhutla Kalteng per 30 Agustus 2026 mencatat 2.222 kejadian dengan luas terbakar 6.358,71 hektare. Di Pulang Pisau terdapat 54 kejadian dengan luas 378,88 hektare.
Sementara itu, KLH memastikan operasi darat dan udara di Kalimantan serta Sumatra terus diperkuat.
Deputi Bidang Penegakan Hukum Lingkungan Hidup KLH/BPLH Rizal Irawan mengatakan puluhan helikopter dan pesawat dikerahkan untuk water bombing serta modifikasi cuaca, sementara ribuan personel gabungan bersiaga selama 24 jam.
“Sampai saat ini, beberapa saudara kita di wilayah Kalimantan dan Sumatera dalam kondisi menghadapi kebakaran hutan dan lahan, serta penurunan kualitas udara. Operasi udara melibatkan puluhan helikopter dan pesawat yang dikerahkan untuk water bombing dan modifikasi cuaca, sedangkan operasi darat didukung ribuan personel gabungan yang siaga 24 jam di titik-titik rawan,” ujar Rizal Irawan, Senin, dikutip dari Antara.[dit]










