FAKTANASIONAL.NET – Indonesia punya potensi besar dalam sumber daya alam logam tanah jarang (rare earth). Mineral ini banyak manfaatnya di industri modern. Bisa untuk komponen mesin jet pesawat tempur, pesawat terbang komersial, hingga sistem senjata rudal.
Logam Tanah Jarang di Kalbar Tersebar di Area 54.000 Hektar
Dosen Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Dr. Eng. Ir. Lucas Donny Setijadji, menjelaskan bahwa riset logam tanah jarang di Indonesia sejatinya telah berlangsung cukup lama.
Ia sendiri telah melakukan penelitian logam tanah jarang pertama kali tahun 2008 dalam proyek kerja sama Indonesia Jepang yang didanai JICA.
Logam tanah jarang juga bisa menjadi bahan untuk elektronik, pendeteksi bawah laut, pertahanan antirudal, alat pelacak, pembangkit energi pada satelit, dan komunikasi.
Untuk mengembangkan potensi tersebut, Pemerintah membentuk Badan Industri Mineral guna melakukan penelitian dan pengembangannya.
Diperkirakan, terdapat delapan lokasi yang menyimpan potensi logam tanah jarang, tersebar di wilayah Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.
Temuan ini memperkuat posisi Indonesia dalam lingkup mineral global yang semakin dibutuhkan di tengah dinamika geopolitik dunia.
“Sebenarnya di kalangan peneliti, mineral ini bukan isu baru, tetapi perjalanan riset yang panjang,” ungkap Lucas kepada wartawan, baru-baru ini.
Ekspor Nikel hingga Bauksit Tersendat, IMA Minta Pemerintah Tetapkan Standar Uji Logam Tanah Jarang
Menurutnya, momentum global mulai berubah ketika Tiongkok membatasi ekspor logam tanah jarang. Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran negara industri, khususnya Jepang, yang sangat bergantung pada pasokan logam tanah jarang untuk sektor teknologi dan manufaktur.
“Sejak itulah eksplorasi logam tanah jarang digalakkan di seluruh dunia. Jepang menjadi salah satu promotor utama riset, termasuk di kawasan ASEAN dan Afrika, melalui pendanaan penelitian dan beasiswa,” jelasnya.
Lucas menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar, tetapi perlu dibedakan antara potensi dan realitas.
Ia menjabarkan realitas seperti komoditas emas dan tembaga yang telah berproduksi secara masif, logam tanah jarang di Indonesia masih berada pada tahap potensi eksplorasi dan pengujian keekonomian.










