Karhutla Barut Tak Bisa Ditangani Setengah Hati, Bupati Shalahuddin Beberkan Strategi dan Mitigasi

Bupati Barito Utara, Kalimantan Tengah, H Shalahudin di Aula Jaya Tingang Palangka Raya. Saat paparan strategi penanganan dan mitigasi Karhutla di Barito Utara.

FAKTA NASIONAL – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Barito Utara menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Menghadapi ancaman kebakaran yang terus meningkat selama musim kemarau, Bupati Barito Utara H. Shalahuddin menegaskan penanganan tidak boleh hanya mengandalkan pemadaman setelah api membesar.

Strategi pencegahan, deteksi dini dan respons cepat harus berjalan secara bersamaan.

Hal tersebut disampaikan Shalahuddin saat memaparkan strategi dan mitigasi penanganan Karhutla Kabupaten Barito Utara dalam Rapat Evaluasi Pencegahan dan Penanganan Karhutla Provinsi Kalimantan Tengah, di Aula Jayang Tingang, Palangka Raya, Kamis 3 September 2026.

Di hadapan jajaran Pemerintah Provinsi Kalteng dan unsur terkait, Shalahuddin membeberkan kondisi terkini Karhutla di wilayahnya. Hingga 31 Agustus 2026, tercatat 182 kejadian Karhutla dengan luasan lahan terbakar mencapai 124,19 hektare.

Sementara berdasarkan pemantauan titik panas, tercatat 405 hotspot.
Angka tersebut menjadi alarm bagi Pemkab Barito Utara untuk memperkuat kesiapsiagaan, khususnya memasuki periode kemarau dengan kondisi lahan yang semakin mudah terbakar.

Shalahuddin mengatakan, penanganan tidak dilakukan secara sporadis. Pemkab Barut menggunakan pendekatan berbasis risiko dengan memprioritaskan wilayah yang dinilai memiliki tingkat kerawanan tinggi.

Teweh Selatan, Teweh Baru dan Teweh Tengah menjadi wilayah prioritas operasi penanganan Karhutla.

Sementara Kecamatan Montallat mendapat perhatian dalam aspek pencegahan dan deteksi dini karena tercatat memiliki jumlah hotspot yang tinggi.

“Prioritas wilayah terus diperbarui berdasarkan perkembangan kejadian, hotspot, luasan terbakar, kondisi cuaca dan situasi lapangan,” jelas Shalahuddin.

Bukan Sekadar Padamkan Api
Bupati menegaskan, strategi Pemkab Barut tidak berhenti pada pemadaman.

Pemerintah daerah memperkuat patroli, pemantauan hotspot, pemberian imbauan kepada masyarakat, pemadaman dini hingga operasi Tim Reaksi Cepat (TRC).

Pusdalops juga disiagakan 24 jam, sehingga informasi mengenai potensi maupun kejadian Karhutla dapat segera diterima dan ditindaklanjuti.

“Respons cepat menjadi bagian penting. Begitu ada informasi kebakaran, personel harus segera bergerak sebelum api berkembang dan meluas,” tegasnya.