Dari kronologi tersebut kelihatan, strategi SDS membuang mayat korban berantakan di tengah jalan. Tampak, ia tak menduga sopir Lalamove bakal berontak, sehingga mayat korban dibuang secara serampangan.
Prof Eric Beauregard dan Melissa Martineau
dalam buku mereka The Sexual Murderer: Offender Behaviour and Implications for Practice (Routlefge, 2016) mengungkap hasil riset tentang cara pembunuh memusnahkan mayat korban.
Beauregard, guru besar kriminologi di Departemen Kriminologi, Simon Fraser University, Burnaby, British Columbia, Canada.
Martineau, doktor bidang cyberpsychology di Capitol Technology University, Maryland, AS.
Penerbit Routledge menjelaskan, bahwa buku ini membahas pembunuhan menyangkut, antara lain, modus operandi, penghindaran deteksi polisi, serta body disposal pathways (jalur pembuangan mayat).
Buku ini mengungkap pemusnahan atau pembuangan mayat korban sebagai bagian dari rangkaian perilaku pelaku, bukan sekadar tindakan tambahan setelah pembunuhan.
Setelah seseorang membunuh, situasinya berubah secara drastis. Pelaku kini menghadapi masalah baru: bagaimana menangani tubuh korban dan bagaimana mengurangi kemungkinan dirinya terhubung dengan kejahatan tersebut.
Dengan demikian, tindakan setelah pembunuhan dapat memberikan informasi mengenai karakteristik pelaku, kondisi emosionalnya, pengalaman kriminalnya, serta tingkat kerumitan perencanaannya.
Hasil penelitian di buku tersebut menunjukkan bahwa body disposal bukan perilaku yang seragam. Ada pelaku yang meninggalkan mayat di tempat pembunuhan, ada yang memindahkannya, ada yang menyembunyikannya, dan ada pula yang melakukan upaya lebih jauh untuk menghilangkan bukti.
Dalam penelitian terhadap pembunuhan berantai, misalnya, ditemukan beberapa pola utama: tubuh dipindahkan lalu disembunyikan, dipindahkan lalu dibuang, ditinggalkan di tempat pembunuhan, atau ditinggalkan tetapi disembunyikan.
Disebutkan, pembuangan mayat tidak selalu merupakan hasil perencanaan matang. Keputusan pelaku dapat dipengaruhi oleh tekanan situasional setelah pembunuhan.
Mayat Pria Tanpa Identitas Ditemukan di Jalan Raya Ngabang Serimbu Kabupaten Landak
Pelaku mungkin tiba-tiba menyadari bahwa keberadaan mayat merupakan ancaman besar bagi dirinya. Akibatnya, ia mengambil keputusan yang cepat dan pragmatis, bukan keputusan yang optimal.
Sebaliknya, ada pelaku yang sejak awal sudah memikirkan apa yang akan dilakukan terhadap korban setelah pembunuhan. Dalam kasus seperti itu, body disposal menjadi bagian dari perencanaan kejahatan, bukan sekadar respons spontan yang panik.
Dengan kata lain, tindakan membuang mayat dapat dipandang sebagai jendela untuk memahami proses pengambilan keputusan pelaku.
Penting: cara mayat dibuang dapat membantu penyidik membaca hubungan antara pelaku dan korban. Penelitian yang lebih baru bahkan menunjukkan, bahwa lokasi dan metode pembuangan berkaitan dengan hubungan korban-pelaku.
Korban yang mempunyai hubungan intim dengan pelaku, misalnya, menunjukkan pola pembuangan yang berbeda dibandingkan korban yang merupakan orang asing.
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa pelaku sering memilih lokasi pembuangan yang dikenalnya, termasuk tempat yang berkaitan dengan tempat tinggal, hubungan masa lalu, atau tempat kerja.
Faktor waktu, jarak, akses kendaraan, cuaca, dan kondisi lingkungan ikut mempengaruhi keputusan tersebut.
Jadi, dari perspektif kriminologi, mayat yang dibuang bukan sekadar “barang bukti yang ingin dihilangkan”.
Cara pelaku memperlakukan tubuh korban dapat meninggalkan behavioral signature tertentu: seberapa terburu-buru dia, seberapa jauh ia berpikir ke depan, seberapa mengenal wilayah tersebut, bagaimana hubungan dengan korban, dan seberapa besar usaha yang dilakukan untuk menghindari deteksi.
Pelaku yang pada awalnya sangat emosional atau panik, mengambil keputusan berbeda dibandingkan pelaku yang mempunyai waktu untuk berpikir dan merencanakan pembunuhan.
Di kasus Bandung, tampak bahwa pelaku sebenarnya sudah cukup rapi mengemas mayat dengan kardus paket barang. Cukup tersamarkan. Namun ia gegabah memesan Lalamove, yang pasti bersama sopirnya. Bukan membawa mobil sendiri, misalnya, sewa mobil yang tidak didampingi sopir.
Belum diungkap polisi, mengapa pelaku mengarahkan pemuatan bungkusan ke arah Kelurahan Kopo? Ada apa di Kopo? Apa yang akan ia lakukan atas mayat itu di Kopo?
Banyak detil yang belum diungkap polisi. Sehingga tidak banyak pelajaran yang bisa didapat masyarakat dari kasus tersebut sampai hari ini. (*)











