AWAS…. Gunung Anak Krakatau Masih Erupsi

Anak Gunung Krakatau. Foto: IndonesiaTouristm

Aktivitas erupsi Anak Krakatau (bukan Krakatau atau induknya) mulai tercatat pada 1927 atau hampir seabad lalu, ketika tubuh gunung masih berada di bawah laut.

Dua tahun kemudian, pada 1929, tubuh gunung mulai muncul ke permukaan dan terus tumbuh melalui aktivitas vulkanik.

Sejak kemunculannya, Anak Krakatau berada dalam fase konstruksi atau membangun tubuh gunung.

Pada September 2018, ketinggian tertingginya tercatat sekitar 338 meter di atas permukaan laut.

Karakter erupsinya umumnya berupa letusan magmatik eksplosif lemah atau Strombolian, serta erupsi efusif berupa aliran lava.

Aktivitas kembali tercatat pada 20 Juni 2016, kemudian disusul letusan Strombolian pada 19 Februari 2017.

Setahun berselang, Anak Krakatau memasuki periode erupsi panjang mulai 29 Juni 2018 yang berlangsung hingga akhir tahun.

Rangkaian aktivitas tersebut menunjukkan Anak Krakatau masih terus berkembang dan membangun tubuhnya. Karena aktivitas vulkaniknya dapat kembali meningkat setelah periode tenang, pemantauan terhadap kegempaan, deformasi, emisi gas, serta aktivitas permukaan menjadi penting untuk mengantisipasi potensi erupsi.

Dengan sejarah aktivitas yang panjang sejak muncul ke permukaan pada 1929, Anak Krakatau hingga kini tetap menjadi salah satu gunung api aktif yang perlu diwaspadai di kawasan Selat Sunda. (*)