Dalam mitologi Romawi, faun digambarkan sebagai makhluk berwujud setengah manusia dan setengah kambing.
Sosok ini berkaitan dengan keliaran alam sekaligus memiliki karakter misterius.
Spilliaert memanfaatkan karakter tersebut untuk menciptakan ambiguitas.
Siluet yang gelap dan pencahayaan yang sangat terbatas membuat sosok faun tidak sepenuhnya terlihat jelas.
Justru ketidakjelasan itulah yang memunculkan rasa penasaran sekaligus ketegangan.
Di satu sisi, cahaya bulan dan permainan alat musik menghadirkan unsur puitis.
Namun di sisi lain, bayangan pekat dan wajah yang sulit ditangkap secara jelas membuat suasananya terasa mengancam.
Faun by Moonlight akhirnya menjadi contoh bagaimana sebuah karya seni dapat mempermainkan persepsi penonton.
Apa yang awalnya tampak sebagai fantasi indah perlahan berubah menjadi pengalaman visual yang gelap dan penuh misteri.[dit]







