Legenda Selat Sunda: Prabu Rakata Belah Nusa Kencana demi Cegah Perang Dua Putra

Legenda Selat Sunda: Prabu Rakata Belah Nusa Kencana demi Cegah Perang Dua Putra/ilustrasi

Ia tidak ingin ambisi kedua putranya mengorbankan rakyat yang tidak bersalah.

Dalam legenda tersebut, sang raja kemudian menggunakan sebuah guci pusaka yang berisi air dari tujuh samudra.

Setelah merapalkan mantra purba, kekuatan gaib dalam kisah itu dipercaya memicu rangkaian bencana dahsyat.

Gempa besar mengguncang Nusa Kencana, disusul letusan Gunung Kapi yang dalam legenda dikaitkan dengan asal-usul Krakatau.

Gelombang tsunami kemudian menerjang daratan hingga wilayah yang sebelumnya menyatu terpisah menjadi dua pulau besar.

Perpisahan tersebut kemudian dimaknai bukan sekadar sebagai terbentuknya batas geografis. Legenda itu menggambarkan lahirnya dua karakter budaya yang berbeda tetapi dianggap saling melengkapi.

Jawa dikaitkan dengan tradisi kepemimpinan dan militer, sedangkan Sumatera digambarkan berkembang sebagai wilayah pelaut sekaligus tempat tumbuhnya tradisi filsafat.

Dalam cerita tersebut, Selat Sunda akhirnya menjadi simbol pengorbanan Prabu Rakata. Sang ayah memilih memisahkan kedua putranya daripada membiarkan perebutan kekuasaan berubah menjadi pertumpahan darah.

Kisah ini merupakan legenda dan bagian dari tradisi cerita rakyat, sehingga tidak dapat diperlakukan sebagai catatan sejarah atau penjelasan ilmiah mengenai terbentuknya Selat Sunda.[dit]