Film yang diproduksi The Guardian itu membahas sistem intelijen Israel dalam menentukan sasaran serangan di Gaza. Istilah NAZA disebut sebagai akronim yang digunakan dinas intelijen untuk memperkirakan jumlah warga sipil yang berpotensi tewas dalam sebuah serangan udara.
The Guardian menulis bahwa persetujuan bahkan disebut dapat diberikan untuk “500 NAZA untuk membunuh satu anggota Hamas.”
Dokumenter tersebut menggambarkan mekanisme penargetan yang melibatkan kecerdasan buatan (AI), operator intelijen, hingga drone pembawa bom.
Film itu juga menyoroti penggunaan istilah “collateral damage” atau kerusakan tambahan yang dalam konteks tersebut berkaitan dengan korban manusia.
“Tentu, memang lebih mudah membunuh orang ketika Anda melakukannya di layar,” kata Yuval Abraham.
Ia menambahkan bahwa petugas intelijen disebut memiliki akses terhadap informasi mengenai kondisi rumah yang menjadi sasaran.
“Mereka tahu rumah yang mereka bom penuh dengan anak-anak. Mereka bisa mendengar bayi menangis. Namun mereka tetap memerintahkan serangan lain.”
Kehadiran NAZA di Venesia sekaligus memicu perdebatan mengenai kebebasan berekspresi, penggambaran operasi militer, serta tudingan terhadap tindakan Israel di Gaza.[dit]
