Gaya Korupsi Gerombolan Anak Buah Nusron di ATR/BPN

Gaya Korupsi Gerombolan Anak Buah Nusron di ATR/BPN/Foto Ai hanya ilustrasi

Pembagian tugasnya juga menarik. Erwin dan Fakhry diduga menjadi penerima atau penghubung. Arif seperti pengepul. Fahd disebut sebagai penampung akhir. Bahkan urusan mutasi dan promosi jabatan ikut diduga masuk permainan.

Jabatan pun seolah-olah sudah berubah menjadi menu GoFood:

“Pak, mau mutasi?”

“Paket hemat ada?”

“Promosi sekalian?”

Sementara Nusron Wahid absen dari rapat Komisi II DPR pada 15 September. Yang hadir Wakil Menteri Ossy Dermawan. Ossy meminta publik tidak berspekulasi dan menghormati proses hukum.

Benar. Karena KPK masih mendalami aliran uangnya. Maka publik pun menunggu episode berikutnya. Sebab ini bukan lagi sekadar gaya korupsi. Ini sudah korupsi rasa ekspor-impor.

Ada rupiah, dolar Amerika, dolar Singapura, riyal, ringgit, koper merah, kode “dua”, HGB, promosi jabatan, dan uang Rp106,3 miliar. Tanah belum tentu pindah tangan. Tapi koper sudah pindah-pindah tangan.

Begitulah Indonesia menemukan inovasi terbaru, sertifikat untuk tanah, koper untuk kekuasaan. Nanti bakal ada komen, “Itu yang ketangkap. Apes aja.”

“Bang, wajar kalau pejabat di Jakarta itu kaya raya. Duit macam nyerok ikan di kolam.”

“Itu baru di BPN, belum di kementerian berbau tambang, izin, lebih ngeri lagi gaya korupsinya, wak.” Ups

Penulis: Rosadi Jamani

Exit mobile version