KITA tinggalkan sejenak soal dalam negeri. Kita jalan-jalan ke negeri para habib, Yaman. Di sana, ada tentara kampung, Houthi dikabarkan menguasai pintu masuk Laut Merah. Arab Saudi pusing tujuh keliling. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Ada ironi besar dalam perang Yaman. Di satu sisi berdiri Arab Saudi. Kerajaan kaya raya, uangnya seperti sumur tidak berdasar. Mau beli jet tempur, bisa. Rudal, bisa. Radar, drone, satelit, sistem pertahanan udara, tinggal tanda tangan kontrak. Tentara Saudi dibekali teknologi perang modern, persenjataan canggih, dan dukungan sekutu kelas dunia.
Di sisi lain ada Houthi.
Kalau memakai kacamata perang modern, Houthi ibarat tentara kampung. Kecil, hidup di negeri lama dihantam perang, infrastrukturnya terbatas, persenjataannya tidak sekelas gudang senjata Saudi. Tetapi tentara kampung ini rupanya punya satu penyakit berbahaya, tidak tahu kapan harus menyerah.
Di situlah ceritanya menjadi absurd. Saudi punya uang. Houthi punya ketahanan. Saudi punya pesawat canggih. Houthi punya rudal dan drone terus muncul seperti nyamuk habis hujan. Saudi punya teknologi. Houthi punya medan perang dan kesabaran.
Hasilnya? Yang punya uang justru kelihatan keteteran.
Pertengahan September 2026, Houthi berhasil melakukan ofensif cepat di pesisir Laut Merah Yaman. Pelabuhan strategis Mocha atau Mokha direbut dari pasukan pemerintah Yaman yang didukung Saudi. Mereka kemudian bergerak ke selatan, menguasai hampir seluruh garis pantai barat Yaman, kawasan sekitar Bab al-Mandab. Pulau Perim atau Mayyun serta Hanish dan Zuqar pun mereka kuasai.
Bab al-Mandab bukan sembarang selat. Sekitar 8–12 persen perdagangan laut global melewati jalur ini, termasuk minyak, gas alam cair, dan kontainer. Ketika Houthi semakin kuat di sana, yang mulai kering bukan cuma tenggorokan orang Saudi, tetapi juga keringat perusahaan pelayaran.
Lebih lucu lagi, Saudi bukan tidak punya kemampuan militer. Justru sebaliknya. Mereka memiliki kekuatan udara modern dan sumber daya finansial memungkinkan membeli hampir semua jenis persenjataan tersedia di pasar internasional.
Tetapi perang tidak selalu tunduk kepada kalkulator. Sejak Agustus 2026, Houthi merebut ribuan kilometer persegi wilayah menurut klaim mereka, termasuk basis militer dan pelabuhan penting. Pasukan pemerintah Yaman mundur di sejumlah titik pesisir. Serangan udara Saudi memang dilakukan, termasuk kontra-serangan di sekitar Taiz dan Bab al-Mandab. Namun Houthi tetap mempertahankan kontrol efektif atas pesisir Laut Merah.
Kemudian rudal dan drone Houthi menyasar wilayah Saudi, termasuk Khamis Mushait, Abha, dan Taif. Sedikitnya 13 warga sipil terluka. Sementara rumah dan kendaraan mengalami kerusakan. Peringatan darurat muncul di Mekkah, Jeddah, dan Taif.
