Menonton sepuluh video tentang bencana tidak serta-merta menyelamatkan korban.
Mengikuti setiap perkembangan konflik sepanjang hari juga tidak otomatis menghasilkan tindakan nyata.
Ada titik ketika informasi berubah menjadi kelelahan.
Karena itu, mengambil jeda dapat menjadi bentuk menjaga diri. Persoalannya adalah apa yang dilakukan setelah jeda tersebut.
Apakah kita kembali dengan kepala yang lebih jernih untuk memahami masalah?
Atau justru menggunakan ketenangan sebagai alasan untuk tidak lagi peduli?
Di sinilah garis batasnya.
Mindfulness seharusnya bukan kemampuan untuk menutup mata terhadap dunia. Ia semestinya menjadi kemampuan untuk melihat dunia dengan kesadaran yang lebih utuh.
Maudy sendiri kemudian mengakui bahwa kemampuan menjauh dari berita merupakan sebuah privilese yang tidak dimiliki semua orang.
Ia meminta maaf karena perspektif tersebut belum cukup ia refleksikan ketika membuat konten.
Ia juga menegaskan bahwa mindfulness yang dimaksud bukan ajakan untuk menjadi egois, apatis, atau menjauh dari realitas.
Bagi saya, justru bagian inilah yang paling penting dari kontroversi tersebut.
Kesalahan dalam komunikasi tidak selalu harus berakhir dengan pembungkaman.
Kritik publik dapat menjadi ruang koreksi ketika kritik itu diarahkan pada gagasan, konteks, dan dampak sebuah pesan.
Figur publik pun tidak harus selalu benar.
Yang lebih penting adalah bagaimana mereka merespons ketika publik menunjukkan sesuatu yang luput dari perspektif mereka.
Maudy sudah memberikan klarifikasi dan meminta maaf.
Setelah itu, yang layak dinilai bukan lagi seberapa keras warganet menghukumnya, melainkan apakah percakapan ini membuat kita semua lebih memahami satu hal sederhana: setiap orang hidup dengan jarak yang berbeda terhadap sebuah krisis.
Ada yang membaca berita tentang kebakaran.
Ada yang rumahnya terbakar.
Ada yang membaca berita PHK.
Ada yang namanya baru saja masuk daftar korban.
Ada yang bisa mematikan televisi ketika berita terasa melelahkan.
Ada pula yang tidak bisa mematikan kenyataan.
Maka, mindfulness boleh mengajarkan kita kapan harus berhenti membaca.
Tetapi empati mengajarkan kita untuk tetap ingat kepada mereka yang bahkan tidak punya pilihan untuk berhenti menghadapi kenyataan.
Dan mungkin, di situlah ukuran kedewasaan sebuah pesan publik: bukan sekadar apakah ia terdengar indah bagi orang yang menyampaikannya, tetapi apakah ia juga mampu memahami luka orang yang mendengarnya.[dit]
