Sementara itu, Kalimantan Selatan mencatat penurunan dari 28 titik menjadi 15 titik. Berbeda dengan kedua provinsi tersebut, Kalimantan Barat mengalami kenaikan jumlah hotspot dari 44 titik menjadi 68 titik.
Di wilayah Sumatra, Sumatra Selatan mencatat 223 titik panas, sedangkan Riau memiliki 14 titik. Adapun Jambi tidak mencatat hotspot atau berada pada angka nol.
Perbedaan perkembangan tersebut menjadi perhatian dalam upaya pengendalian karhutla. Penurunan di sejumlah wilayah belum menghilangkan kebutuhan untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di daerah yang masih mencatatkan banyak titik panas.
Saat meninjau lokasi, Raja Juli turut memantau langsung kondisi kawasan terdampak serta proses penanganan yang dilakukan petugas di lapangan.
Ia menegaskan pentingnya koordinasi dan kerja sama seluruh unsur yang terlibat agar penanganan kebakaran dapat berjalan efektif. Capaian penurunan hotspot di Kalimantan Selatan juga diharapkan tidak membuat tim gabungan mengurangi kewaspadaan.
“Saya minta seluruh pihak terus menjaga kerja sama dan kekompakan di lapangan. Kita bekerja maksimal untuk memastikan karhutla dapat ditangani dengan baik,” tegas Raja Juli.
Pemerintah pun terus mendorong keterlibatan berbagai pihak dalam penanganan karhutla, khususnya di wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat yang masih menghadapi tantangan kebakaran hutan dan lahan.[dit]










