JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET – Komisi VI DPR RI menyampaikan sejumlah catatan kritis tentang kinerja Perum Perhutani yang masih jeblok. Di antaranya adalah terkait konflik lahan, kerusakan lingkungan, hingga tantangan inovasi dan penguatan SDM.
Kritik tersebut disampaikan saat Direktur Perhutani dan jajarannya Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI di Gedung Nusantara I, Senayan,Jakarta, Selasa (29/4/2025).
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua Komisi VI, Aditsatrya Suryo Sulisto yang juga memimpin agend tersebut mengungkapkan bahwa banyak lahan yang dikelola Perhutani masih mengalami tumpang tindih dengan pemukiman warga.
Selain itu, ia juga menyoroti maraknya praktik pembalakan liar (illegal logging) dan kerusakan lingkungan yang dinilai belum tertangani secara optimal.
“Permasalahan konflik lahan dan illegal logging harus diselesaikan secara nyata. Kami ingin mendengar solusi konkret dari jajaran direksi Perhutani,” kata Adisatrya.
Selain aspek lingkungan, ia juga mengkritisi kinerja keuangan Perhutani yang stagnan. Sebab, berdasarkan laporan yang diterimanya, pendapatan perusahaan sejak konsolidasi tahun 2014 belum menunjukkan peningkatan signifikan.
“Kalau kita lihat dengan penerimaan (revenue) tahun 2014, masih mirip. Artinya, mencari usaha baru di sektor kehutanan tidak mudah. Ini tantangan tersendiri karena salah satu tujuan utama Perhutani adalah konservasi,” ungkap Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini.
Tidak hanya itu saja, Adisatrya turut menyoroti pengembangan ekowisata yang dikelola Perhutani di 116 lokasi. Menurutnya, beberapa titik lokasi tersebut belum memberikan besaran kontribusi yang siginifikan terhadap pendapatan perusahaan namun, pada saat yanag sama, berpotensi menciptakan “over tourism” yang bisa merusak tujuan konservasi hutan.










