FAKTANASIONAL.NET – Dalam dunia intelektual, sering kali kita terjebak pada pemujaan teori yang berlebihan.
Saya melihat banyak individu merasa telah memahami dunia hanya dengan melahap tumpukan literatur, namun abai terhadap realitas di lapangan.
Fenomena ini menciptakan sebuah kondisi yang disebut sebagai kedangkalan berpikir.
Ketajaman analisis seseorang tidak bisa hanya diukur dari seberapa banyak buku yang ia baca, melainkan dari sejauh mana ia mampu membenturkan teori tersebut dengan dinamika pengalaman nyata.
Kedangkalan ini sering kali melahirkan cara pandang yang terlalu permisif atas nama “sudut pandang pribadi.”
Argumen bahwa setiap orang memiliki perspektifnya sendiri sering kali dijadikan tameng untuk membenarkan sesuatu yang secara etis cacat.
Sebagai contoh, dalam pandangan masyarakat luas, korupsi adalah tindakan kriminal yang merugikan negara dan merampas hak rakyat.
Namun, bagi mereka yang terjebak dalam pola pikir dangkal, korupsi bisa saja dibingkai sebagai “keuntungan” atau “peluang” dari kacamata sang koruptor.











