FAKTANASIONAL.NET – Perang Iran dan blokade Selat Hormuz telah memicu krisis energi paling parah di dekade ini. Namun, di tengah pembatalan puluhan ribu penerbangan komersial dan ancaman kelangkaan bahan bakar, gaya hidup “kaum sultan” tampaknya tidak tergoyahkan.
Data terbaru menunjukkan bahwa penggunaan jet pribadi justru mengalami lonjakan tajam saat masyarakat umum kesulitan mengakses transportasi udara.
Kondisi ini menciptakan jurang kesenjangan sosial dan lingkungan yang semakin lebar.
Pasokan bahan bakar fosil dari kawasan Teluk yang biasanya memasok seperlima kebutuhan dunia praktis terhenti, memaksa pengiriman avtur global merosot ke level terendah dalam sejarah, yakni di bawah 2,3 juta ton—kurang dari separuh volume rata-rata sebelum perang.
Permintaan yang Tidak Elastis Terhadap Harga
Berdasarkan analisis firma data penerbangan WINGX Advance, industri jet pribadi global nyaris tidak terpengaruh oleh meroketnya biaya operasional.
Secara global, penerbangan privat naik 4,7 persen (YoY) per 19 April 2026. Di kota-kota besar Amerika Serikat seperti Washington DC dan Houston, kenaikannya bahkan menembus 17 persen.
Analis WINGX Advance, Richard Koe, menjelaskan bahwa kenaikan harga avtur Jet A1 yang mencapai dua kali lipat sejak Januari tidak menghentikan minat terbang kaum miliarder.
“Karena aktivitas terbang tetap naik, jelas bahwa permintaan mereka tidak elastis terhadap harga,” jelas Koe. Menurutnya, biaya bahan bakar yang membengkak tersebut langsung dibebankan kepada konsumen akhir tanpa mengurangi frekuensi terbang.
Ketidakadilan Karbon: Emisi 90 Menit vs Seumur Hidup
Sisi gelap dari tren ini adalah beban emisi karbon yang sangat timpang.
Aktivitas penerbangan jet pribadi disebut sebagai aktivitas manusia yang paling boros energi. Sebuah studi dari jurnal Nature mengungkapkan fakta yang memprihatinkan mengenai pesawat-pesawat kecil ini.











