Jaga Stabilitas Harga, Badan Gizi Nasional Instruksikan Dapur MBG Prioritaskan Serap Hasil Tani Lokal

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Nanik Sudaryati Deyang menginstruksikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk memprioritaskan pembelian hasil tani lokal guna menyuplai kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG), sekaligus menjadi instrumen stabilitas harga saat komoditas pertanian anjlok. /(Foto;ANTARA)

FAKTANASIONAL.NET — Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menginstruksikan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk memprioritaskan penyerapan hasil pertanian lokal.

Kebijakan ini ditekankan sebagai langkah intervensi strategis, terutama saat harga komoditas di tingkat petani mengalami penurunan drastis.

Nanik menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) dirancang untuk memberikan dampak ganda (multiplier effect).

Program ini tidak sekadar berfokus pada pemenuhan nutrisi masyarakat, tetapi juga berfungsi sebagai instrumen penjaga stabilitas harga pangan di tingkat hulu.

“Kami sudah menginstruksikan kepada koordinator wilayah agar ketika ada harga komoditas yang jatuh, hasil pertanian itu digunakan oleh SPPG. Seperti pokcoy yang tadi harganya turun, kalau dipakai untuk menu MBG tentu serapannya meningkat dan harga bisa kembali membaik,” ujar Nanik di Kebun Bunga Refugia, Magetan, Senin (1/6/2026).

Baca Juga: BGN Sebut Program Makan Bergizi Gratis Putar Anggaran Rp942 Miliar per Hari untuk Gerakkan Ekonomi

Optimisme di Tengah Fluktuasi Harga Komoditas

Kawasan Plaosan, Magetan, menjadi salah satu wilayah percontohan yang menjadi sorotan karena harga komoditas pertaniannya kerap berfluktuasi tajam.

Nanik mengungkapkan, beberapa jenis sayuran krusial seperti tomat dan wortel bahkan pernah merosot hingga menyentuh harga Rp3.000 per kilogram.

Dengan masifnya kebutuhan bahan baku untuk suplai dapur MBG di berbagai daerah, BGN optimistis peningkatan permintaan ini akan menjadi jangkar pengaman harga.

Kendati skema transaksi tetap mengikuti mekanisme pasar, tingginya volume pembelian oleh SPPG diyakini mampu mendongkrak posisi tawar petani.

Manajemen BGN juga memberikan peringatan keras kepada seluruh pengelola unit pelayanan di daerah. Nanik menggarisbawahi tidak boleh ada praktik penekanan harga beli terhadap komoditas yang dipasok oleh petani lokal.