SINGKAWANG, FAKTANASIONAL.NET – Persatuan Guru Republik Indonesia Kota Singkawang menggelar seminar pendidikan untuk memperkuat muatan lokal Bahasa Melayu Sambas di Rumah Melayu Balai Serumpun pada Rabu (3/6/2026).
Kegiatan strategis ini dirangkaikan langsung dengan agenda Konferensi Kerja Kota dan dibuka secara resmi oleh Wakil Wali Kota Singkawang Muhammadin.
Forum pendidikan tersebut dihadiri oleh ratusan peserta yang terdiri dari guru dan akademisi serta praktisi pendidikan daerah setempat.
Muhammadin menegaskan bahwa pemerintah bersama organisasi guru memiliki peran sentral yang tidak dapat dipisahkan dalam upaya mencetak generasi penerus bangsa.
Pendidikan di era modern dinilai tidak hanya berorientasi pada peningkatan aspek akademik melainkan harus mampu membentuk karakter peserta didik.
“Sejak dahulu hingga sekarang, sinergi antara pemerintah dan PGRI harus terus diperkuat karena memiliki tujuan yang sama, yaitu menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk masa depan,” ujarnya.
Rencana penguatan kurikulum Bahasa Melayu Sambas di lingkungan sekolah dinilai menjadi sebuah langkah pelestarian identitas budaya yang sangat strategis.
Bahasa daerah tersebut dinilai mengandung banyak nilai kesantunan dan tata krama yang sangat penting dalam proses pembentukan jati diri siswa.
“Bahasa Melayu bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga sarana mewariskan nilai budaya, sopan santun, dan etika kepada generasi muda,” katanya.
Kemajuan pesat di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi diwajibkan agar berjalan beriringan dengan upaya pelestarian kebudayaan lokal kemasyarakatan.
Ruang pendidikan diharapkan mampu menumbuhkan rasa kebanggaan para siswa terhadap bahasa maupun ragam budaya dari daerah asalnya masing-masing.
“Jangan sampai anak-anak kita maju dalam ilmu pengetahuan, tetapi kehilangan jati diri karena tidak mengenal budaya dan bahasa daerahnya sendiri,” tegasnya.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Singkawang Asmadi mewajibkan seluruh satuan pendidikan di daerahnya untuk menerapkan konsep Trigatra Bangun Bahasa.
Konsep utama tersebut menekankan pengutamaan penggunaan bahasa nasional sekaligus menjaga kelestarian bahasa daerah dan menguasai bahasa asing sebagai bekal global.
“Peserta didik harus mengutamakan Bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing. Inilah yang kami sebut sebagai Trigatra Bangun Bahasa,” jelasnya.
Pihak dinas pendidikan saat ini telah merumuskan rancangan kurikulum khusus yang memasukkan bahasa daerah setempat sebagai mata pelajaran muatan lokal.
Kebijakan baru ini diharapkan mampu memberikan ruang luas bagi pelestarian warisan budaya sekaligus memperkuat pembentukan karakter generasi muda di Kota Singkawang.
(*Red)







