Vucic Siap Mundur dari Kursi Presiden Serbia, Pemilu Dini Diproyeksikan Digelar

Vucic Siap Mundur dari Kursi Presiden Serbia, Pemilu Dini Diproyeksikan Digelar[foto: @Factsyory)

FAKTANASIONAL.NET – Presiden Serbia Aleksandar Vucic mengumumkan rencananya untuk mengundurkan diri dalam beberapa pekan ke depan setelah negaranya diguncang gelombang demonstrasi anti-pemerintah yang berlangsung selama sekitar 18 bulan.

Pernyataan itu disampaikan Vucic di hadapan para pendukungnya dalam sebuah rapat umum pro-pemerintah di Belgrade.

Dalam pidatonya, Vucic mengatakan masa jabatannya sebagai presiden hanya akan berlangsung beberapa minggu lagi sebelum ia melepaskan posisi tersebut.

Ia juga menyebut Serbia akan menggelar pemilihan presiden dan parlemen lebih awal sebagai konsekuensi dari langkah tersebut.

Mengutip laporan Reuters 28/6/2036, mandat kedua sekaligus terakhir Vucic sejatinya baru akan berakhir pada pertengahan 2027.

Meski demikian, hingga kini ia belum mengumumkan tanggal pasti pengunduran diri maupun waktu pembubaran parlemen yang menjadi syarat penyelenggaraan pemilu legislatif lebih awal.

Vucic menegaskan tetap akan berperan dalam mendukung Partai Progresif Serbia (SNS) menghadapi kontestasi politik mendatang.

Ia bahkan mengusulkan daftar koalisi partainya menggunakan nama “Serbia Bersatu” pada pemilihan berikutnya.

Rencana pengunduran diri Vucic muncul di tengah aksi demonstrasi antikorupsi yang dipimpin mahasiswa.

Gelombang protes itu bermula setelah runtuhnya kanopi di Stasiun Kereta Api Novi Sad pada November 2024 yang menewaskan 16 orang.

Sejak insiden tersebut, kelompok oposisi, mahasiswa, dan organisasi hak asasi manusia menuding tragedi itu sebagai cerminan dugaan korupsi serta buruknya pengelolaan proyek pembangunan oleh pemerintah.

Reuters juga melaporkan bahwa pengunduran diri Vucic belum tentu mengakhiri pengaruh politiknya.

Sejumlah analis menilai ia berpeluang kembali memegang kendali apabila Partai Progresif Serbia memenangkan pemilu parlemen, termasuk melalui kemungkinan menjabat sebagai perdana menteri atau menempatkan sekutu dekatnya di kursi presiden.

Sementara itu, tokoh oposisi Savo Manojlovic menilai keputusan tersebut merupakan upaya Vucic menghadapi tekanan politik yang terus menguat akibat dukungan publik terhadap gerakan mahasiswa yang menuntut perubahan pemerintahan.[dit]