FAKTANASIONAL.NET – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali menjadi bahan perbincangan publik setelah potongan video percakapannya dengan Keisha, mahasiswa baru Universitas Padjadjaran, beredar luas di media sosial.
Yang menjadi kritik publik adalah cara seorang pejabat publik berbicara kepada seorang anak muda yang sedang menceritakan persoalan keluarganya.
Dalam pertemuan mahasiswa baru Unpad tersebut, Keisha menceritakan kondisi keluarganya. Ia mengungkapkan keterbatasan ekonomi dan kurangnya dukungan dari ayahnya.
Dalam percakapan yang kemudian viral, Dedi bertanya mengapa Keisha dilahirkan dari ayah yang tidak bertanggung jawab dan mengatakan, pada intinya, seseorang seharusnya memilih pasangan yang bertanggung jawab.
Keisha menjawab bahwa manusia tidak dapat memilih nasibnya. Jawaban itu kemudian menjadi salah satu bagian yang paling banyak dibicarakan di media sosial.
Kritik warganet berkisar pada soal empati. Seorang pengguna media sosial menulis bahwa pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang tidak tepat karena menyangkut sesuatu yang sama sekali tidak dapat dikendalikan oleh seorang anak.
Komentar lain menyampaikan gagasan serupa: seorang anak tidak dapat memilih dari keluarga seperti apa ia dilahirkan.
Kritik tersebut menarik karena sebenarnya Dedi tidak berhenti pada percakapan kontroversial tersebut. Ia kemudian memberikan bantuan nyata. Dedi menyatakan biaya kuliah Keisha akan ditanggung, bahkan belakangan menyebut biaya pendidikan tersebut telah dibayarkan sampai delapan semester ke depan.
Dengan demikian, kasus ini tidak sederhana. Di satu sisi, ada tindakan konkret membantu mahasiswa yang menghadapi keterbatasan. Di sisi lain, ada pertanyaan mengenai etika komunikasi pejabat publik.







