Fakta Nasional

Anak Krakatau Meletus Lagi Hari Ini

FAKTANASIONAL.NET - Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda masih bergolak hingga Minggu (6/9/2026) Dan, Senin (7/9/2026) hari ini erupsi sebanyak dua kali. Letusan terakhir pukul 07.10 WIB. Meski masih mengalami erupsi, intensitas aktivitas vulka…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Djono W Oesman Editor: Redaksi 📍 Nasional Monday, 07 September 2026 📖 3 menit
Anak Krakatau Meletus Lagi Hari Ini
Grafis Gunung Anak Krakatau meletus lagi. Foto: Disway

FAKTANASIONAL.NET - Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda masih bergolak hingga Minggu (6/9/2026) Dan, Senin (7/9/2026) hari ini erupsi sebanyak dua kali. Letusan terakhir pukul 07.10 WIB.

Meski masih mengalami erupsi, intensitas aktivitas vulkanik GAK disebut mulai menurun dibandingkan kondisi dua hari sebelumnya.

6 Bandara Masih Ditutup Dampak Abu Anak Krakatau

Pengamat Gunung Api pada Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Andi Suwardi, mengatakan dua erupsi terjadi pada Minggu.

Erupsi pertama berlangsung pada dini hari, sedangkan letusan kedua terjadi sekitar pukul 07.10 WIB.

"Hari ini tercatat dua kali letusan, pertama saat subuh, terakhir terjadi pada pukul 07.10 WIB. Intensitasnya mulai menurun, tidak seperti kemarin," kata Andi saat dikonfirmasi wartawan, Minggu pukul 15.00 WIB.

Meski dua kali erupsi kembali terjadi, tinggi kolom abu yang dihasilkan belum dapat diamati secara visual.

Abu Anak Krakatau Rugikan 150.000 Penumpang

Kondisi tersebut lantaran kamera CCTV yang digunakan untuk memantau aktivitas GAK mengalami kerusakan setelah terkena material vulkanik dari letusan sebelumnya.

Selain itu, kondisi di sekitar gunung juga berkabut akibat penguapan air laut sehingga menghambat pemantauan secara visual.

"Kondisinya berkabut akibat penguapan air laut jadi tidak terlihat. CCTV-nya juga rusak pas letusan pertama kemarin terkena letusan," ujar Andi.

Untuk sementara, petugas mengandalkan peralatan pemantauan kegempaan atau seismometer untuk mengetahui perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Andi menyebut terdapat sekitar tiga hingga empat kamera yang dipasang untuk memantau aktivitas gunung api tersebut. Namun, kamera yang berada di sekitar Krakatau mengalami kerusakan.

"Kamera yang terpasang sekitar 3 sampai 4, yang di Krakatau rusak," ucapnya.

Kerusakan kamera membuat pemantauan visual kolom abu menjadi terbatas. Meski demikian, aktivitas vulkanik tetap dipantau melalui data kegempaan dan peralatan lainnya di pos pengamatan.

Abu Anak Krakatau Serbu Jakarta dan Sekitar, Warga Harus Kenakan Masker

Abu Vulkanik Terbawa Angin ke Wilayah Banten

Di tengah aktivitas erupsi tersebut, hujan abu vulkanik juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Banten.

Material abu yang dimuntahkan Gunung Anak Krakatau terbawa angin dan menyebar ke sejumlah daerah.

Andi mengatakan arah pergerakan abu sangat dipengaruhi kondisi angin di sekitar Selat Sunda.

"Dari erupsi Krakatau, abu yang sebagian tertiup angin sampai di wilayah-wilayah yang ada di Banten," jelasnya.

Sebaran abu vulkanik ini membuat masyarakat di sejumlah wilayah diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan.

Masyarakat juga diimbau menggunakan masker sebagai perlindungan dari paparan abu vulkanik yang terbawa angin.

Andi meminta masyarakat tidak panik dan tetap menjalankan aktivitas dengan memperhatikan kondisi lingkungan.

"Jangan lupa mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah untuk berjaga-jaga," tegasnya.

Gunung Anak Krakatau saat ini masih berstatus Level III atau Siaga. Badan Geologi sebelumnya menetapkan status tersebut sejak 2 Juli 2026 dan merekomendasikan masyarakat maupun wisatawan tidak mendekati pusat aktivitas gunung api dalam radius 3 kilometer.

Aktivitas erupsi menerus juga telah terpantau sejak Jumat (4/9/2026) sekitar pukul 23.07 WIB. BNPB mencatat erupsi tersebut disertai suara gemuruh atau dentuman serta fenomena lava fountain.

Sebaran abu vulkanik bahkan telah berdampak terhadap sejumlah aktivitas di wilayah sekitar Selat Sunda.

Pada Minggu pagi, BNPB melaporkan empat bandara sempat ditutup sementara sebagai langkah keselamatan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik, yakni Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II Lampung, dan Budiarto Curug.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas GAK tidak hanya menjadi perhatian masyarakat di sekitar gunung, tetapi juga berdampak lebih luas terhadap wilayah Banten, Lampung hingga kawasan Jabodetabek.

Meski demikian, masyarakat diminta tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi, terutama kabar yang berlebihan mengenai dampak erupsi.

Andi mengingatkan warga untuk memperoleh informasi dari kanal resmi dan mengikuti rekomendasi petugas maupun pemerintah daerah.

"Sehingga tidak terpancing isu-isu yang menyesatkan. Kita meminta agar masyarakat mengikuti rekomendasi yang kami keluarkan yakni tidak mendekati radius 3 kilometer dari pusat letusan," tutup Andi.

Masyarakat diimbau tetap tenang, menggunakan masker saat berada di luar rumah, serta segera membersihkan abu vulkanik yang menempel di lingkungan sekitar dengan cara yang aman. (*)


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK