Fakta Nasional

Araghchi Tuntut Ganti Rugi AS Sebagai Syarat Lanjutan Negosiasi Nuklir

INTERNASIONAL, FAKTANASIONAL.NET - Negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat tengah berada di titik krusial setelah insiden serangan militer AS ke fasilitas nuklir Iran pada 21 Juni 2025. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Te…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Sunday, 03 August 2025 📖 1 menit
Araghchi Tuntut Ganti Rugi AS Sebagai Syarat Lanjutan Negosiasi Nuklir
Araghchi Tuntut Ganti Rugi AS Sebagai Syarat Lanjutan Negosiasi Nuklir/(pixabay)

INTERNASIONAL, FAKTANASIONAL.NET - Negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat tengah berada di titik krusial setelah insiden serangan militer AS ke fasilitas nuklir Iran pada 21 Juni 2025.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Teheran tidak akan melanjutkan pembicaraan diplomatik tanpa adanya kompensasi finansial dari Washington. Pernyataan ini dilontarkan dalam wawancara dengan Financial Times yang dikutip Fox News pada 2 Agustus 2025.

Araghchi menyatakan bahwa dana ganti rugi harus mencakup kerusakan infrastruktur, teknologi, dan biaya pemulihan ilmuwan. Bagi Iran, dana tersebut bukan hanya simbol keadilan, melainkan jaminan bahwa AS menghargai proses dialog. Selain itu, Araghchi menuntut penjelasan resmi mengenai motif AS melancarkan serangan di tengah perundingan yang tengah berjalan.

Lebih lanjut, Araghchi menekankan perlunya komitmen AS untuk tidak mengulangi aksi militer di masa mendatang. Tanpa jaminan tegas, Iran khawatir negosiasi akan terulang kembali dalam ketegangan. Menurutnya, kesepakatan diplomatik harus dibangun di atas kepercayaan mutual yang terjamin oleh mekanisme hukum internasional.

Meskipun fasilitas nuklir Iran rusak parah akibat serangan AS dan Israel, Araghchi optimis Teheran masih mampu merevitalisasi program pengayaan uranium. Ia menyebut bahwa bangunan dapat dibangun ulang, mesin pengganti sudah tersedia, dan sumber daya manusia—ilmuwan serta teknisi—masih lengkap. Iran bahkan dapat memulai kembali program nuklir kapan saja jika negosiasi gagal.

Data Serangan dan Klaim Pihak Lawan
Pemerintah Iran melaporkan tiga fasilitas utama hancur, sementara Israel juga mengaku merusak sistem pertahanan udara Iran dan menewaskan lebih dari 1.000 orang dalam 12 hari konflik. Pihak Israel mengklaim telah membunuh 30 pejabat keamanan senior dan 11 ilmuwan nuklir terkemuka.

Dengan tuntutan ganti rugi dan jaminan non-repetisi, Iran menegaskan syarat mutlak dilanjutkannya pembicaraan. AS kini dihadapkan pada pilihan sulit: membayar kompensasi demi memulihkan kepercayaan atau melihat proses negosiasi terhenti total.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK