Fakta Nasional

AS Kembali Intervensi Yen Setelah 28 Tahun, Harga Bitcoin Tertekan

FAKTANASIONAL.NET - Pergerakan pasar keuangan global kembali berubah setelah Amerika Serikat melakukan intervensi terhadap mata uang Jepang untuk pertama kalinya dalam hampir tiga dekade. Kebijakan tersebut membuat nilai yen menguat, sementara Bitco…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Monday, 03 August 2026 📖 2 menit
AS Kembali Intervensi Yen Setelah 28 Tahun, Harga Bitcoin Tertekan
AS Kembali Intervensi Yen Setelah 28 Tahun, Harga Bitcoin Tertekan/(Pixabay)
) -->

FAKTANASIONAL.NET - Pergerakan pasar keuangan global kembali berubah setelah Amerika Serikat melakukan intervensi terhadap mata uang Jepang untuk pertama kalinya dalam hampir tiga dekade.

Kebijakan tersebut membuat nilai yen menguat, sementara Bitcoin justru bergerak melemah di tengah reli pasar saham Amerika.

Mengutip BeInCrypto, Jumat (2/8), harga Bitcoin sempat turun mendekati US$63.000 setelah pemerintah AS ikut membeli yen guna membantu Jepang menahan pelemahan mata uangnya.

Langkah Washington dinilai tidak biasa karena terakhir kali membeli yen terjadi pada 17 Juni 1998. Saat itu, berdasarkan catatan Federal Reserve New York yang dikutip dari BeInCrypto, nilai intervensinya mencapai US$833 juta.

Sebelumnya, Jepang lebih dulu melakukan intervensi dengan menjual dolar AS dan membeli yen. Menurut laporan Financial Times yang dikutip BeInCrypto, Federal Reserve New York kemudian turut menjual euro dan membeli yen atas nama Departemen Keuangan AS melalui Goldman Sachs dan Morgan Stanley.

Reuters juga menampilkan foto catatan Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang memperlihatkan rencana pembelian yen senilai US$5 miliar hingga US$10 miliar. Nilai tersebut jauh lebih besar dibandingkan intervensi pada 1998.

Sementara itu, Bloomberg memperkirakan Jepang menggelontorkan sekitar ¥8,45 triliun atau setara US$52,8 miliar untuk menopang mata uangnya.

Di saat indeks Nasdaq, S&P 500, dan Dow Jones kompak menguat pada Jumat, Bitcoin justru bergerak berlawanan. Mengutip BeInCrypto, harga aset kripto terbesar itu turun sekitar 1,25 persen dalam 24 jam menjadi sekitar US$63.034, dengan kapitalisasi pasar sekitar US$1,26 triliun.

Fenomena tersebut dikaitkan dengan strategi carry trade, yakni praktik meminjam yen berbunga rendah untuk membeli aset berisiko seperti saham dan Bitcoin.

Ketika yen menguat tajam, pelaku pasar cenderung melepas aset mereka untuk melunasi pinjaman sehingga memberi tekanan pada pasar kripto.

Mengutip analis Evercore ISI Marco Casiraghi dan Gang Lyu yang menyatakan, "Tanpa dukungan dari perbedaan suku bunga, dampak dari intervensi FX kemungkinan hanya bertahan dalam waktu singkat."

Pelaku pasar kini menantikan sejumlah agenda penting pada Agustus, termasuk rilis data ekonomi Jepang, pertemuan Menteri Keuangan AS Scott Bessent dengan Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda dalam forum G20, serta arah kebijakan suku bunga Bank of Japan dan Federal Reserve yang diperkirakan akan menjadi penentu pergerakan yen maupun Bitcoin selanjutnya.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK