AS Terjepit di Timur Tengah: Strategi Salah Hitung yang Berujung Petaka?
FAKTANASIONAL.NET - Keputusan Amerika Serikat menyerang Iran pada 28 Februari lalu tampaknya menjadi bumerang besar. Alih-alih membuat lawan bertekuk lutut, serangan tersebut justru memicu eskalasi yang tak terduga. Washington awalnya sangat yakin b…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Keputusan Amerika Serikat menyerang Iran pada 28 Februari lalu tampaknya menjadi bumerang besar. Alih-alih membuat lawan bertekuk lutut, serangan tersebut justru memicu eskalasi yang tak terduga.
Washington awalnya sangat yakin bahwa penyerangan tersebut akan melumpuhkan kepemimpinan Iran dengan cepat, namun realitas di lapangan berbicara sebaliknya.
Hanya dalam hitungan jam, Iran meluncurkan serangan balik masif yang menyasar seluruh pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Tidak ada yang luput dari jangkauan rudal mereka.
Iran kini memegang kendali psikologis dengan mengajukan tiga syarat berat: penghentian serangan permanen, pembubaran pangkalan militer AS di Timur Tengah, dan pencabutan embargo secara total. Bagi Gedung Putih, memenuhi syarat ini sama saja dengan mengakui kekalahan di mata dunia.
Kekuatan Iran bukan hanya pada rudal, melainkan posisi geopolitik di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan urat nadi energi dunia yang melintasi 20% minyak dan 25% gas global. Selain itu, terdapat kabel optik bawah laut yang vital bagi arus data finansial dunia.
Jika jalur ini diputus total, kiamat ekonomi dan krisis data akan menghantam Eropa dan Amerika secara langsung. Kini, AS berada di persimpangan jalan antara kehilangan muka atau menghadapi biaya perang senilai 3 triliun dolar AS.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.