Fakta Nasional

Badai PHK di Negeri Sultan: Lebih dari 3.000 Bisnis Kuliner Singapura Tutup!

INTERNASIONAL, FAKTANASIONAL.NET - Singapura, yang selama ini dikenal sebagai ikon kemapanan ekonomi, kini menghadapi krisis yang nyata di sektor kuliner. Laporan mencatat bahwa lebih dari 3.000 bisnis kuliner (F&B) di sana gulung tikar sepanjan…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Monday, 17 November 2025 📖 2 menit
Badai PHK di Negeri Sultan: Lebih dari 3.000 Bisnis Kuliner Singapura Tutup!
Ekonomi/ilustrasi/@pixabay)

INTERNASIONAL, FAKTANASIONAL.NET - Singapura, yang selama ini dikenal sebagai ikon kemapanan ekonomi, kini menghadapi krisis yang nyata di sektor kuliner. Laporan mencatat bahwa lebih dari 3.000 bisnis kuliner (F&B) di sana gulung tikar sepanjang tahun lalu. Angka ini setara dengan rata-rata 250 restoran tutup setiap bulannya, menjadikannya jumlah penutupan tertinggi dalam hampir dua dekade. Fenomena ini tidak hanya menimpa bisnis baru, tetapi juga menyeret restoran legendaris, seperti Ka-Soh, restoran Kanton berusia 86 tahun yang terpaksa menyajikan sup ikan terakhirnya.

Pemilik generasi ketiga Ka-Soh, Cedric Tang, mengungkapkan perasaannya yang "kalah" meskipun sudah berjuang keras. Keputusan sulit ini diambil karena mereka tidak mungkin menaikkan harga jual makanan. Ka-Soh, sebagai bisnis warisan, ingin mempertahankan esensi 'keterjangkauan' bagi pelanggan setia mereka. Nasib serupa dialami oleh Burp Kitchen & Bar dan Prive Group. Bahkan, mantan pemilik restoran, Chua Ee Chien, menyebutkan bahwa restoran yang paling 'sehat' pun kesulitan bertahan, termasuk dua restoran yang masuk dalam Michelin Guide Singapura.

Biaya Sewa Mencekik dan Dampak Investor Properti

Salah satu pemicu utama penutupan massal ini adalah biaya sewa yang melambung. Ketua Singapore Tenants United for Fairness (SGTUFF), Terence Yow, mengungkapkan bahwa mayoritas penyewa melaporkan kenaikan sewa antara 20 hingga 49 persen. Kenaikan drastis ini belum pernah terjadi dalam 15 hingga 20 tahun terakhir. Minat investor lokal dan asing terhadap properti rumah toko (ruko) di tengah pembatasan pembelian hunian menjadi salah satu faktor. Ekspektasi tinggi terhadap imbal hasil sewa dari investor ini menekan pemilik properti, yang kemudian berujung pada kenaikan sewa hingga 50-100% saat perpanjangan, bahkan tanpa mencapai harga pasar saat ini.

Krisis Tenaga Kerja dan Perang Gaji

Selain sewa, tingginya biaya tenaga kerja turut memperparah keadaan. Dengan ketersediaan juru masak yang semakin menipis, jaringan restoran besar berebut staf dengan menggandakan gaji, menyulitkan restoran independen kecil seperti Burp Kitchen untuk bersaing. Meskipun Asosiasi Restoran Singapura telah menyuarakan alarm mengenai krisis tenaga kerja dan perlunya peninjauan kuota pekerja asing, pihak berwenang justru melihat masalah ini sebagai kelebihan pasokan gerai. Dengan hampir 3.800 bisnis baru dibuka tahun lalu, persaingan makin ketat, dan gerai independen kecil semakin tersingkir oleh jaringan restoran berkantong tebal.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK