Banjir Amuk Guizhou: Ribuan Warga Mengungsi dan Gelombang Panas Beijing Mencekam
INTERNASIONAL, FAKTANASIONAL.NET - Provinsi Guizhou, Tiongkok barat daya, dilanda banjir hebat setelah hujan lebat mengguyur wilayah tersebut. Lebih dari 80.000 penduduk terpaksa meninggalkan rumahnya demi keselamatan. Badan penanggulangan bencana s…
Dengarkan Ringkasan
INTERNASIONAL, FAKTANASIONAL.NET - Provinsi Guizhou, Tiongkok barat daya, dilanda banjir hebat setelah hujan lebat mengguyur wilayah tersebut.
Lebih dari 80.000 penduduk terpaksa meninggalkan rumahnya demi keselamatan.
Badan penanggulangan bencana setempat meningkatkan status darurat ke tingkat tertinggi dan menerjunkan tim SAR ke dua kawasan terdampak utama.
Drone menangkap pemandangan dramatis di Rongjiang, di mana lapangan sepak bola dan jalanan terendam air setinggi tiga meter. Seorang warga, Long Tian, menggambarkan betapa cepatnya air naik, membuat banyak keluarga tak sempat menyelamatkan harta benda mereka. Jalan putus, jaringan listrik terganggu, dan evakuasi massal menjadi prioritas utama.
Evakuasi massal menghadirkan tantangan logistik besar. Pengungsi ditampung di gedung sekolah, balai desa, dan tenda darurat.
Kebutuhan pangan, air bersih, serta pelayanan medis digalakkan, namun akses ke titik pengungsian terkadang terhambat retakan tanah dan longsor. Pemerintah provinsi bekerja sama dengan relawan dan militer untuk mendistribusikan bantuan secara merata.
Sementara banjir menghantui Guizhou, Ibu Kota Beijing diterjang gelombang panas ekstrem dengan suhu mencapai 38 °C.
Pemerintah kota menerbitkan peringatan oranye, menghimbau warga mengurangi aktivitas luar ruangan dan memperbanyak konsumsi cairan. Pekerja konstruksi dipersilakan menghentikan pekerjaan pada siang hari, sedangkan mahasiswa dan pekerja kantoran menyesuaikan jam kerja. Gejala heatstroke menjadi ancaman nyata bagi kelompok rentan.
Fenomena ekstrem ini menambah kekhawatiran tentang perubahan iklim global. Sebagai penghasil emisi CO₂ terbesar, China menegaskan komitmen puncak emisi sebelum 2030 dan netral karbon pada 2060.
Meski masih intensif menggunakan batu bara, Beijing terus menggalakkan energi terbarukan untuk meredam krisis iklim yang kian mendesak.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.