BI Ungkap Tiga Dampak Penutupan Selat Hormuz bagi Indonesia
FAKTANASIONAL.NET - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terhadap potensi penutupan Selat Hormuz dinilai dapat memberikan dampak luas bagi perekonomian Indonesia. Bank Indonesia (BI) mengidentifikasi sedikitnya tiga…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terhadap potensi penutupan Selat Hormuz dinilai dapat memberikan dampak luas bagi perekonomian Indonesia.
Bank Indonesia (BI) mengidentifikasi sedikitnya tiga jalur transmisi yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi nasional, mulai dari lonjakan harga komoditas hingga gangguan perdagangan global.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan gejolak di Timur Tengah akan langsung berdampak pada jalur komoditas, terutama energi.
Menurutnya, ketidakpastian di kawasan tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia yang kemudian berimbas pada peningkatan biaya energi di berbagai negara.
Destry mengatakan dampak tersebut turut dirasakan Indonesia, tercermin dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dalam beberapa waktu terakhir.
Kondisi itu berpotensi meningkatkan tekanan inflasi, sebagaimana telah terjadi di sejumlah negara lain yang lebih dahulu menghadapi lonjakan harga energi.
Meski harga minyak mengalami kenaikan, Destry melihat adanya peluang bagi Indonesia melalui penguatan harga komoditas lain, seperti batu bara dan minyak kelapa sawit mentah (CPO).
Indonesia sebagai salah satu produsen terbesar batu bara dan CPO dunia dinilai dapat memperoleh manfaat dari pergeseran konsumsi energi global.
“Ketika harga energi meningkat, sebagian negara berpotensi kembali menggunakan batu bara yang relatif lebih murah. Ini menjadi peluang bagi Indonesia,” ujar Destry seperti dikutip dari CNBC Indonesia, Rabu 24 Juni 2026.
Selain komoditas, Bank Indonesia mencermati jalur keuangan sebagai dampak kedua. Menurut Destry, ketidakpastian global mendorong bank sentral di berbagai negara mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama atau higher for longer.
BI sendiri telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin dalam satu bulan terakhir hingga mencapai 5,75 persen.
Kebijakan tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar, memperkuat daya tarik aset keuangan domestik, serta mengendalikan inflasi agar tetap berada dalam target 2,5 persen plus minus 1 persen.
Jalur ketiga yang menjadi perhatian adalah perdagangan internasional. Potensi terganggunya rantai pasok global akibat konflik di Timur Tengah diperkirakan dapat meningkatkan biaya distribusi barang dan menambah tekanan inflasi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Bank Indonesia menegaskan akan terus mencermati perkembangan global guna memastikan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar internasional.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.